Tampilkan postingan dengan label Internal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 April 2015

HMI Dukung Tes Narkoba Bagi Mahasiswa Baru

  

Guruyakusaku, Pemberlakuan tes narkoba bagi calon mahasiswa merupakan langkah nyata untuk mendeteksi penggunaan narkoba di kalangan pemuda.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Chairul Umam, Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda (Kabid PTKP) HMI Cabang Pamekasan, Minggu (29/03/2015).
Pernyataan ini pula sekaligus sebagai bentuk dukungan HMI Pamekasan, Madura, terhadap rencana Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M Nasir yang akan memberlakukan aturan baru untuk calon mahasiswa tahun ajaran 2015-2016.
“Rencana Menristek Dikti melakukan tes narkoba kepada calon mahasiswa baru merupakan upaya antisipatif meluasnya peredaran narkoba di kalangan mahasiswa,” kata Chairul Umam seperti dikutip dari ANTARA.
Lebih lanjut ia menyatakan saat ini peredaran narkoba di Indonesia, termasuk di Pulau Madura sudah sangat parah. Ia mensinyalir peredaran narkoba sudah merambah semua lini kehidupan masyarakat, termasuk pemuda dan mahasiswa, serta lingkungan Perguruan Tinggi.
Saat ini pengguna narkoba di Indonesia mencapai 4 juta jiwa lebih. Jumlah ini diperkirakan meningkat tajam menjadi 5,8 juta jiwa pada 2015 berdasarkan angka prevalensi yang dirilis Menkumham belum lama ini.
Sementara data yang dirilis Badan Narkotika Nasional (BNN), dalam kurun waktu empat tahun terakhir, telah terungkap 108.107 kasus kejahatan narkoba dengan jumlah tersangka 134.117 orang.

Sumber : 
http://kabarkampus.com/2015/04/hmi-dukung-tes-narkoba-bagi-mahasiswa-baru/


Rabu, 01 April 2015

Makna Lambang HMI

Merawat Identitas HMI

Pada 5 Februari 2015, genap 68 tahun umur Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menghiasi kancah aktivis di Indonesia. Di usia yang semakin matang, HMI selaku organisasi pergerakan yang bertujuan membina dan mencerahkan mahasiswa Islam terus-menerus memperbaiki berbagai kelemahan guna mewujudkan kader-kader intelektual, beriman nan merdeka.

Selaku organisasi independen yang tak beraifiliasi dengan partai apapun, HMI memang terkesan redup dan lambat dalam merespon isu yang berkembang. Namun percayalah, bahwa hal tersebut dilakukan demi pertimbangan matang dalam menentukan sebuah keputusan. Langkah tersebut juga merupakan wujud kehati-hatian dalam menerapkan prinsip independensi HMI. Inilah salah satu wujud tekad HMI untuk selalu menjadi salah satu bagian garda terdepan dalam menjaga ‘izzul Islam wal muslimin.

Bagi HMI, terlalu mudah untuk melengserkan suatu rezim. Di sinilah identitas HMI, meskipun yang bermain di kancah perpolitikan sebagian adalah senior dan alumni HMI, kader harus dan seharusnya tetap memihak siapa yang benar. Tidak adanya rasa ketergantungan terhadap senior akan selamanya lebih baik untuk menghindari sifat pengecut, rendah diri dan terikat hutang budi.

Adapun kuatnya independensi HMI tak terlepas dari adanya jenjang pengkaderan hingga jalinan komunikasi antar alumni. Bagaimanapun juga, HMI menyadari sepenuhnya bahwa pasti akan ada dampak negatif jika suatu organisasi pergerakan secara eksplisit berada di bawah payung suatu partai. Bukan hanya mencederai hubungan batin antar aktivis, namun lebih mencoreng dan membelokkan sejarah makna aktivis.

Memang tak mudah hidup menjaga identitas independensi dalam berorganisasi. Berbagai hambatan mulai dari segi ekonomi hingga linktak jarang akan ditemui. Tetapi, bukankah iman memang harus diuji di tengah realitas global yang sarat menawarkan kerakusan diri? Perlu ditekankan kembali kepada kader-kader baru bahwa kader berkualitas tak akan terwujud bila yang dirasa dalam berorganisasi hanya manis dan hura-huranya saja.

Meskipun keterbatasan itu terkadang menimbulkan masalah, sering adanya berbagai masalah tersebut kader menjadi terbiasa menghadapi masalah. Kenanglah, bahwa hanya kader yang menguasai masalah-lah yang mampu memecahkan masalah. Daya juang itulah yang perlahan-lahan akan menumbuhkan sifat pengabdian, penghormatan serta pelayanan. Patut disyukuri bahwa keterbatasan itu lambat laun dapat melahirkan kesederhanaan dalam diri kader. Sesungguhnya, kesederhanaan itulah yang mampu membuka awal prinsip independensi. Kesederhanaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pengkaderan HMI selama ini untuk turut serta mengabdi di pentas kancah nasional. Tak berlebihan pula jika “gemblengan” untuk hidup sederhana dalam pengkaderan menjadi penyelamat dan penghebat melalui ibadah dan sunnah-sunnah nabi mulia.

Kader HMI harus sadar bahwa tujuan mencerahkan mahasiswa Islam bukan hanya terhenti pada istilah cerah sebatas tahu. Islam sepatutnnya dijadikan pegangan diri untuk terus berproses memperbaiki diri. Islam adalah agama yang menggerakkan, maka sepatutnyalah kader memiliki sikap tergerak berkarya tiada henti.
Di milad HMI ke- 68 ini, tak ada harapan lain selain merawat dan terus membina kader-kader pemuda HMI yang jiwanya hadir Allah. Positive thinking tahan banting dan pemuda problem solving dalam proses pengkaderan HMI selamanya harus tetap dijunjung.

Yakin Usaha Sampai

Sumber : http://hminews.com/opini/merawat-identitas-hmi/

HMI Yang Saya Tahu

Menjadi sederhana itu ternyata tidak mudah, konsekuensinya harus siap dianggap ‘ hanya’ sebagai biasa-biasa saja.’

Kalau penulis harus mengevaluasi (apapun) yang berkaitan dengan HMI dari dulu hingga kini, itu adalah hal yang barangkali mustahil. Bagaimana mungkin HMI yang sudah berumur 66 Tahun dengan perjalanan panjang yang berliku-liku dievaluasi oleh penulis yang baru empat tahun mengenal HMI?, itu pun tidak terlalu serius. Apa yang penulis lakukan ini tidak lebih dari sekedar refleksi tentang HMI yang jauh dari memenuhi syarat untuk dikategorikan ‘ilmiah.’ Penulis melihat HMI dengan kapasitas pengetahuan seorang kader biasa.

Sebagai organisasi, HMI tidak bisa dibandingkan dengan, misalnya, Muhamadiyah, Persis, Nahdhatul Ulama (NU) maupun partai politik yang memiliki banyak ‘apa-apa’ dan memiliki peran yang langsung (secara fisik) bisa dirasakan oleh masyarakat. HMI ‘hanya’ organisasi yang tidak punya sekolah, pesantren, mushalla, masjid apalagi rumah sakit. Tetapi karena sejarah mengakui bahwa HMI memiliki peran dalam sejarah Indonesia  menjadikannya tidak bisa untuk disebut organisasi ‘hanya’. Barangkali karena peran besar itulah beberapa tokoh Indonesia lebih sering disebut ‘mantan’ HMI, misalnya – untuk menyebut salah satu nama – Nurcholis Madjid, meskipun ia juga mantan santri Gontor, mantan mahasiswa UIN Jakarta tapi sebutan “Mantan Ketua PB HMI” lebih sering disematkan kepadanya. Ke-tidak-hanya-an HMI juga terbukti dari banyaknya alumninya yang memiliki posisi penting dalam lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah sehingga kemudian menimbulkan banyak spekulasi tentang HMI.

HMI adalah organisasi perkaderan dan perjuangan. Praktek Perkaderan dan perjuangan yang dimaksud tidak menekankan pada aspek materil, melainkan aspek non-materi berupa aspek intelektual dan spritual. Oleh karena itu, membicarakan keberhasilan HMI dan membesar-besarkannya karena banyak tokoh ‘besar’ (penulis lebih setuju jika disebut tokoh terkenal) yang dilahirkan serta peranannya yang telah direkam oleh sejarah, bagi kalangan anggota aktif HMI menurut penulis tidak terlalu penting, meskipun juga tidak bisa diabaikan sama sekali. Toh, sekarang HMI masih hidup dan masih berproses. Jika diibaratkan dengan manusia, membesar-besarkan dan menyanjung-nyanjung manusia yang masih hidup tidak terlalu baik, karena sisa umur sejatinya adalah lahan untuk ujian. Menurut penulis yang lebih penting untuk dibicarakan para anggota HMI adalah tugas HMI, misalnya hal terbaik apa yang mesti dilakukan untuk HMI saat ini?. HMI hadir sejatinya tidak bertugas melahirkan tokoh besar atau berperan besar bagi bangsa dan negara ini. HMI hadir justru sebagai wadah bagi Mahasiswa untuk memperdalam dan mengamalkan wawasan keagamaan (Islam), keilmuan, pengalaman sekaligus sebagai ruang belajar bagi para mahasiswa untuk membina diri agar mampu mengenal bahwa dirinya adalah manusia. Itu yang utama. Kalaupun nantinya, mahasiswa yang pernah menjadi anggota HMI bisa berperan besar dan lahir sebagai tokoh besar itu hanyalah manfaat turunan yang tidak mutlak. Tidak mutlak maksudnya, HMI tidak bisa menjamin bahwa semua anggotanya akan menjadi tokoh besar dan tidak bisa mengaku-aku tokoh besar yang mantan aggota HMI itu 100% produk HMI.

HMI Seolah-olah

Dalam proses pembinaan dan perjuangan, HMI menghadapi keniscayaan para anggotanya yang memiliki jenis karakter dan kepentingan yang beragam. Di antara mereka ada yang mau dibina atau membina diri, ada yang tidak suka, dan ada pula yang setengah-setengah. Hal ini bukan berarti mereka (yang tidak mau) tidak ingin di HMI,  tetapi barangkali ia merasa tidak terwadahi di HMI atau kepentingannya telah terpenuhi. keberagaman itu akan melahirkan produk yang beragam pula. Yang jadi masalah, jika ada (mungkin banyak, dan termasuk penulis) mahasiswa yang disebut, diakui, dikenal dan bahkan senang mengaku-ngaku dirinya sebagai anggota HMI tetapi tidak mencerminkan perilaku HMI atau tidak mau menjaga nama baik HMI.

Jika masalah itu melanda HMI maka yang terjadi adalah banyak mahasiswa yang menjadi anggota HMI seolah-olah. Ia seolah-olah anggota HMI padahal ia tidak mengerti HMI. Ia mengaku anggota HMI tapi tidak pernah ikut kegiatan HMI, tidak pernah baca pedoman-pedoman HMI, tidak pernah mau terlibat dalam kegiatan HMI, tidak mau mengikuti jenjang perkaderan di HMI, tidak pernah peduli dengan HMI dan tidak pernah-tidak pernah yang lain yang beraroma HMI.

Sebagagaimana lazimnya zaman-zaman sebelumnya -kata Zawawi Imron- modernitas selalu melahirkan dilema-dilema baru, kuman-kuman baru yang mungkin lebih canggih, di samping banyak persembahannya yang berharga. Di tengah modernitas yang selalu berkembang ini jika HMI dipenuhi oleh anggota yang ‘seolah-olah’ maka HMI akan berubah menjadi ‘barang komoditi’. Bukan hanya kebesarannya yang selalu ditampilkan tetapi harga dirinya pun akan rela di gadaikan sehingga independensinya yang sering dibanggakan layak diragukan.

Apa yang disebut terakhir diatas hanyalah dugaan atau berupa ke khawatiran, bukan sebuah kenyataan. Oleh karena itu, penting kiranya untuk mengantisipasinya. Karena jika hal itu nyata adanya, betapa memperihatinkan HMI kita ini. Kadernya ‘banyak’ tapi ‘sedikit’.

Banyak hal yang telah dilakukan dan barangkali perlu ditingkatkan oleh HMI saat ini yang memerlukan dukungan dari berbagai pihak untuk memaksimalkan tugas HMI selaku pembina mahasiswa. Misalnya yang terjadi di lingkungan HMI Cabang Yogyakarta, muncul gejala baru Korkom UIN Sunan Kalijaga dengan aktifitas tulis menulisnya, meskipun hanya berupa buletin, aktifitas pengajian rabu paginya yang meniru kegiatan KPC, diskusi KOPI malamnya. Di UII ada kegiatan Silakom (silaturrahim antar Komisariat) yang dilakukan FMIPA UII, HMI Expo FE dan FH UII dan lain-lain yang tidak saya ketahui. kegiatan-kegiatan tersebut harus disadari sebagai proses perkaderan dalam rangka pembinaan kader sekaligus layak diaprisiasi.

Apabila kegiatan-kegiatan yang sederhana itu bisa dimaksimalkan dan dijalankan denganistiqamah dan syukur kalau bisa ditingkatkaninsya Allah tidak akan ada lagi kader yang telat sadar bahwa HMI memiliki peran dan mafaat besar bagi dirinya. kader tidak akan perlu menunggu jadi pasca atau alumni untuk mengatakan “Apa yang saya lakukan dulu di HMI sangat bermanfaat, atau saya menyesal dulu tidak ikut ini, tidak ikut itu di HMI.”  Kader tidak akan ada lagi atau paling tidak, sedikit yang keberatan dan berat hati menjadi panitia kegiatan, pengurus komisariat atau terlibat-terlibat dalam kegiatan HMI lainnya. karena apapun yang dilakukan di HMI adalah proses perkaderan yang –meminjam istilahnya Mas Nugroho meski tidak sama persis– akan memudahkannya untuk mempertanggung jawabkan ke-HMI-annya kepada HMI dan memudahkannya untuk mempertanggungjawabkan keislaman sebagai orang Islam baik di dunia maupun di akhirat.

Tugas HMI adalah membina Mahasiswa berupa pembinaan. Sedangkan hasilnya mau jadi apa tidak terlalu penting untuk dipikirkan. Asalkan sudah berusaha dengan maksimal insya Allah hasilnya –mau terkenal atau tidak- akan baik. Tentu harus disadari bahwa tugas itu melekat pada setiap anggata HMI, baik itu kader, pengurus atau pun pasca pengurus sesuai kapasitas dan tingkat kesadarannya masing-masing. Pembinaan dengan usaha yang maksimal akan melahirkan Anggota HMI yang baik, yaitu anggota yang tidak akan terjebak pada mengukur kebesaran HMI hanya karena keterkenalan para alumninya, tetapi karena kebaikannya. Betapa indahnya, menurut penulis, jika kita bisa menyebutkan misalnya alumni HMI yang sekarang menjadi petani yang baik, pedagang yang baik, guru yang baik, tukang ojek yang baik, guru ngaji yang baik, dan orang-orang baik lainnya yang pekerjaannya selama ini dianggap sepele, tetapi terlibat aktif di tengah masyarakat untuk menciptakan tatanan masyarakat yang diridhai Allah swt. Penulis yakin mereka bertebaran dan dapat dijumpai di bumi nusantara ini. Wallahu a’lam

Roesdy
HMI (MPO) Cabang Yogyakarta

Sumber : Hminews.com

Menengok Masa Lalu HMI


5 Februari 1947, 66 tahun yang lalu menjadi tonggak bersejarah berdirinya HMI.Perjalanan 66 tahun Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah menorehkan tinta sejarah di pentas nasional. Banyak tokoh nasional dan lokal telah dilahirkan oleh organisasi yang lahirnya diprakarsai oleh Lafran Pane ini. HMI pun diharapkan tetap dapat memberikan kontribusinya dalam mengisi perjalanan bangsa.

Bulan Oktober 1946 berdiri Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY), sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa di Yogyakarta waktu itu yang anggotanya meliputi mahasiswa BPT Gadjah Mada, STT, STI. Di Solo tahun 1946 berdiri Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI). Kedua organisasi itu berhaluan komunis. Tidak satupun diantara organisasi mahasiswa itu yang berorientasi Islam.

Lafran Pane, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) (kini UII- Universitas Islam Indonesia) yang baru duduk di tingkat I, mengadakan pembicaraan dengan teman-teman mengenai gagasan pembentukan organisasi mahasiswa Islam. Lafran Pane lantas mengundang para mahasiswa Islam yang ada di Yogyakarta baik yang ada di STI, Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada, Sekolah Tinggi Teknik (STT), guna menghadiri rapat, membicarakan maksud tersebut. Rapat dihadiri lebih kurang 30 orang mahasiswa, di antaranya terdapat anggota PMY dan GPII. Rapat-rapat yang sudah berulang kali dilaksanakan, belum membawa hasil, karena ditentang oleh PMY. Dengan mengadakan rapat tanpa undangan, secara mendadak, mempergunakan jam kuliah tafsir Bapak Husin Yahya almarhum ( mantan Dekan Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ), diselenggarakanlah pertemuan untuk mendeklarasikan berdirinya HMI.

Ketika itu hari Rabu Tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan tanggal 5 Febuari 1947, di salah satu ruangan kuliah STI di jalan Setiodiningratan 30 (sekarang Jl. Panembahan Senopati), masuklah mahasiswa Lafran Pane yang dalam prakatanya ketika memimpin rapat antara lain mengatakan : Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi mahasiswa Islam, karena persiapan yang diperlukan sudah beres. Sikap ini diambil, karena kebutuhan terhadap organisasi ini sudah sangat mendesak. Yang mau memerima HMI sajalah yang diajak untuk mendirikan HMI, dan yang menentang biarlah terus menentang, toh tanpa mereka organisasi ini bisa berdiri dan berjalan.

Adapun latar belakang pemikirannya dalam pendirian HMI adalah: “Melihat dan menyadari keadaan kehidupan mahasiswa yang beragama Islam pada waktu itu, yang pada umumnya belum memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Keadaan yang demikian adalah akibat dari sitem pendidikan dan kondisi masyarakat pada waktu itu. Karena itu perlu dibentuk organisasi untuk merubah keadaan tersebut. Organisasi mahasiswa ini harus mempunyai kemampuan untuk mengikuti alam pikiran mahasiswa yang selalu menginginkan inovasi atau pembaharuan dalam segala bidang, termasuk pemahaman dan penghayatan ajaran agamanya, yaitu agama Islam. Tujuan tersebut tidak akan terlaksana kalau NKRI tidak merdeka, rakyatnya melarat. Maka organisasi ini harus turut mempertahankan Negara Republik Indonesia kedalam dan keluar, serta ikut memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran rakyat.

Ketika mendirikan HMI 5 Febuari 1947, Lafran Pane genap berusia 25 Tahun.  Ide Lafran Pane mendirikan HMI dilakukan bersama 14 orang temannya yaitu Kartono Zarkasi, Dahlan Husain, Maisaroh Hilal, Suwali, Yusdi Ghozali, Mansyur, Siti Zainab, M. Anwar, Hasan Basri, Zukkarnaen, Thayeb Razak, Toha Mashudi, Bidron Hadi. Terpilih menjadi Ketua HMI  pertama Lafran Pane dan Wakil Ketua Asmin Nasution.

Sejarah mencatat HMI telah memberikan kontribusi tidak kecil sejak awal kelahirannya. Setidaknya itu terlihat dari tekad awal (1947) yang tertuang dalam tujuan organisasi yang secara konsisten dilaksanakan, yaitu mempertahankan Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia yang sedang berjuang melawan agresi Belanda dan kondisi umat Islam yang mengalami stagnasi.

Demikian pula ketika terjadi gerakan PKI pada 1965. HMI menjadi satu elemen yang paling diperhitungkan, bahkan dianggap sebagai musuh utama. Sampai-sampai DN Aidit memprovokasi anak buahnya dengan mengemukakan, “Jika tidak bisa membubarkan HMI, lebih baik pakai sarung saja.” Berkat rahmat Tuhan, bukan HMI yang bubar melainkan PKI yang gulung tikar.

Sampai pada dua pertiga masa kekuasaan Orde Baru, HMI masih memperlihatkan kekuatan luar biasa. Bahkan ketika kekuasaan Orde Baru dengan gaya represif dan otoriter ingin memaksakan kehendak agar seluruh ormas termasuk OKP menggunakan asal tunggal Pancasila, HMI dalam kongres di Medan (1983) dengan tegas dan suara bulat menolak. Walaupun dalam kongres berikut (1986), HMI dengan sangat terpaksa mengakomodasi keinginan penguasa tersebut dengan pertimbangan yang bersifat sangat politis. Dalam artian ingin menyelamatkan wadah perjuangan HMI dari gerusan penguasa otoriter, lantaran bila tidak mau menerima Pancasila sebagai asas tunggal HMI akan dibubarkan. Meskipun itu harus dibayar mahal oleh HMI dengan menyempal organ HMI yang kemudian menamakan diri HMI Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) yang dimotori Eggy Sudjana.

Sejarah Perumusan NDP (Nilai Dasar Perjuangan) HMI

NDP kali pertama dikenal pada tahun 1969 pada saat Pengurus Besar HMI yang bertempat di Jakarta dipimpin oleh Nurcholis Madjid yang sering dikenal dengan Cak Nur, tepatnya padi Kongres ke-9 di Malang, pada saat itu Cak Nur memberikan presentasi mengenai Nilai Dasar Islam, selanjutnya kertas kerja yang telah disampaikan oleh Cak Nur dalam kongres tersebut dimintu oleh peserta kongres dan selanjutnya kongres mengamanahkan untuk disempurnakan dengan menugaskan Sakib Mahmud, Endang Ashari serta konseptornya Cak Nur.

Pada Kongres ke-10 di Palembang tahun 1971 konsep dasar Islam ini dikukuhkan dengan nama “Nilai-Nilai Dasar Perjuangan” yang disingkat dengan NDP tanpa perubahan isi sama sekali, adapun alasan dipilihnya nama ini adalah: karena Nilai Dasar Islam (NDI) dianggap justru menyempitkan makna Islam itu sendiri, apalagi mengklaim dengan nama Islam. Selain itu kata perjuangan memiliki makna usaha yang sungguh-sungguh untuk merubah suatu keadaan, kata perjuangan itupun terinspirasi dari sebuah kata judul sebuah buku “Perjuangan Kita” karya Syahrir.

Adapun beberapa faktor yang melatarbelakangi lahirnya NDP adalah sebagai berikut :

Belum adanya literature yang Memadai bagi kader HMI untuk rujukan filsafat sosial dalam usaha melakukan aksi dan kerja kemanusiaan.Kondisi umat Islam khususnya di Indonesia yang masih mengalami kejumudan dan kurang dalam penghayatan serta pengamalan nilai- nilai ajaran Islam.Kaca perbandingan, karena kader PKI mempunyai buku panduan yang dijadikan pedoman untuk menjalankan idiologi marxisnya, maka dari mahasiswa Islam juga harus memiliki buku panduan sebagai dasar perjuangan.

Dalam perjalanan sejarah NDP, ketika negeri ini menganut asas tunggal yang ditetapkan oleh pemerintah yang saat itu rezim Soeharto, dengan Orde Barunya dengan dikeluarkannya UU No. 5 Tahun 1985 tentang Asas Tunggal Pancasila, NDP pun berubah nama lagi menjadi Nilai Identitas Kader (NIK) namun isinya tetap tidak berubah, selanjutnya perubahan nama ini kemudian disahkan pada kongres ke-16 di Padang.

Setelah orde baru tumbang dan alam demokrasi yang kian berkibar, maka pada Kongres ke-22 di Jambi tahun 2000, NIK kembali menjadi nama NDP. Kedudukan NDP : Sebagai Landasan Perjuangan, tujuan NDP : Sebagai Filsafat Sosial.

Demikianlah perjuangan berat yang pernah dialami. Akan tetapi setelah itu HMI terbuai lantaran kedekatannya dengan kekuasaan, bahkan ada yang secara ekstrem menyatakan hampir tidak ada lagi sekat yang membatasi antara HMI dan kekuasaan. Hampir dapat dipastikan hal itu lantaran pada masa-masa tersebut banyak alumnus HMI menempati posisi-posisi strategis dalam birokrasi pemerintahan.

HMI dan Kekuasaan.

Dalam masa setelah roda reformasi dapat menggulingkan komandan rezim Orde Baru, terlihat kondisi lebih buruk lagi pada HMI. Dalam masa itu seperti yang telah saya sebutkan di atas, HMI tidak lagi menjadi mainstream. Di tengah kebebasan dalam menyampaikan pendapat, HMI terlihat sedemikian serak. Jarang sekali melakukan penyikapan terhadap kondisi-kondisi sosial yang timpang termasuk dalam bentuk aksi-aksi demonstrasi atau yang lain.

Ada dua hal yang kemungkinan besar menyebabkan hal tersebut. Pertama, telah tumpul pisau analisis yang dahulu menjadikannya sebagai organisasi kritis. Kedua, HMI tidak lagi mampu menghimpun kekuatan untuk menyuarakan sikapnya secara bersama-sama lantaran telah terjadi kritis militansi. Selain itu di tengah-tengah gerakan Islam baik keagamaan maupun politik dengan politik aliran, HMI justru kalah dengan yang lain.

Serpihan-serpihan pemikiran yang dahulu pernah dilontarkan oleh senior-senior dan sekaligus adalah ideolog HMI seperti Ahmad Wahib, DjohanEffendy, dan Nurcholish Madjid tidak mampu dilanjutkan oleh HMI secara institusional sehingga HMI seakan kehilangan akar genealogisnya. Pemikiran senior-senior itu sekarang justru banyak dielaborasi di tempat dan komunitas lain, seperti Komunitas Islam Utan Kayu dengan bendera Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dengan sangat intens melanjutkan gagasan-gagasan senior HMI tersebut.

Bila dalam komunitas itu sebagian besar adalah kader HMI, sekali lagi itu bukan HMI secara institusional. Dan itu, justru menunjukkan bahwa HMI memang sudah tidak lagi menyediakan ruang untuk menggali pemikiran-pemikiran ideologis. Padahal dewasa ini, ide-ide yang dulu kontraversial itu telah menjadi mainstream dan mulai banyak mendapat apresiasi positif dari khalayak masyarakat.

Karena itu, HMI sesegera mungkin menyadari kesalahan langkah yang diambilnya selama ini. Jika tidak dilakukan, dalam waktu tidak lama judul di atas akan menjadi sangat pas untuk menggambarkan kondisi HMI yang bagaikan anak ayam yang mati bukan lantaran kekurangan makanan, melainkan justru tertimbun padi yang menggunung di dalam lumbung yang seharusnya ia makan dengan porsi lebih banyak.

Tegakkan Identitas

Mantan Ketua Umum PB HMI periode 1974-1976, Chumaidi Syarif Romas melihat tantangan HMI saat ini adalah harus menegakkan identitas kembali, hingga nilai-nilai dasar perjuangan HMI. Supaya nilai itu diterapkan sesuai dengan kebutuhan sekarang, dan memberikan alternatif pemikiran di tengah arus globalisasi yang sekarang terjadi.

”Apalagi tantangan HMI saat ini ialah ditengah maraknya koruptor, kader HMI acap  mengedepankan kepentingan pribadi,” tegas Chumaidi yang juga guru besar di UIN Yogyakarta ini.

Untuk itu, menurut Pimpinan Kolektif Majelis Nasional KAHMI 2012-2017 Taufiq Hidayat untuk kondisi akan datang, HMI harus lebih konsern menata pengkaderannya. Pengkaderan yang dipunyai sejauh ini sudah memberikan hasil positif di tengah masyarakat, tapi untuk tantangan jauh ke depan, mulai harus dipikirkan perubahan-perubahannya.  Kembali pada bagaimana mengintensifkan intelektualitas kader HMI, bagaimana menguatkan network kader HMI, itu penting untuk dijaga.

Taufiq menegaskan HMI haruslah tetap pada jalur sebagai organisasi independen. Karena independensi itu yang memberi suatu keleluasaan dalam bertindak, berpikir, dan dalam berkiprah di tengah masyarakat. Karena dia tidak memandang strata dan latar belakang.

Referensi :

Bagai Anak Ayam Mati di Lumbung ; Catatan Kongres Ke-23 HMI, Oleh: Mohammad Nasih AminullahSejarah Perumusan NDP (Nilai Dasar Perjuangan),notedanpena.blogspot.comHMI Diharapkan Terus Mampu Lahirkan Pemimpin Bagi Umat dan Bangsa. Pelitaonline

( APA ITU HMI ? )

APA ITU HMI?
HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sebuah organisasi mahasiswa Islam yang didirikan pada 14 Rabiul Awal 1366 H atau tanggal 5 Februari 1947, di Yogyakarta. Organisasi mahasiswa yang terbesar dan tertua di Indonesia yang lahir hampir bersamaan dengan Agresi Militer Belanda I. Dalam suasana revolusi fisik yang menggelora HMI berdiri dan menetapkan tujuannya, yaitu “Mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dan meningkatkan Syi’ar Islam di tanah air.”
Kelahiran HMI merupakan keharusan dari realitas sejarah umat Islam yang masih skeptis atas aktivitas mahasiswa yang penuh dengan huru-hara (cinta, pesta, dan buku) dan kondisi bangsa yang masih menghadapi berbagai ancaman dari dalam dan luar. Ketiga hal tersebut yang menggerakkan Lafran Pane untuk mendirikan HMI. Citra keislaman, kemahasiswaan, dan keindonesiaan tersebut harus selalu hadir dalam diri generasi muda Islam.
Dalam usia yang hampir menyamai Republik ini, HMI telah banyak berkiprah dalam pembangunan bangsa ini, jajaran alumninya banyak tersebar di mana-mana baik di parpol, cendekiawan, NGO/LSM, pemerintahan, agamawan, pengusaha, dll.
Setelah melalui perjalanan waktu yang panjang dengan berbagai sejarah yang dijalaninya, maka keberadaan HMI semakin dituntut eksistensinya. Untuk dapat mengikuti perubahan masyarakat di tengah-tengah kehidupan yang komplek dan dinamis saat ini, maka tujuan HMI kini ialah mewujudkan Insan Cita yakni “Terbinanya Insan Akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
1. Pelatihan Kader
Latihan Kader I / Basic Training
Latihan Kader II / Intermediete Training
Latihan Kader III / Advance Training
2. Struktur HMI terdiri dari
Pengurus Besar (dibantu Badko)
Pengurus Cabang (dibantu Korkom)
Pengurus Komisariat
3. Badan-Badan HMI yang disebut dengan Lembaga Kekaryaan HMI terdiri dari:
BPL (Badan Pengelola Latihan)
LKBHMI (Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Mahasiswa Islam)
LAPMI (Lembaga Pers Mahasiswa Islam)
LAPENMI (Lembaga Penelitian Mahasiswa Islam)
LDMI (Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam
dll.
HMI CABANG BANDA ACEH KOMISARIAT FKIP UNSYIAH
Sebagai ujung tombak perkaderan di lingkup Fakultas, komisariat FKIP UNSYIAH memberikan ruang-ruang bagi anggotanya melalui berbagai aktivitas dan sarana pendukung lainnya.
Jenis-jenis kegiatan yang diadakan antara lain:
1. Kajian Rutin meliputi
Kajian Islam Komprehensif
Kajian Hukum
Kajian NDP (Nilai Dasar Perjuangan)
Kajian Kemahasiswaan
Bedah Buku,
Kelompok Belajar Calon Guru.
Kegiatan Sosial Kemasyarakatan meliputi: Pelatihan Mengajar  Guru,(Baksos),Mengkaji Ilmu" dalam  Islam,Mengkaji Politik nasional maupun lokal, Pembentukan jaringan dengan Dinas pendidikan  serta Seluruh Lembaga - Lembaga Yang berkecimpung dalam dunia Pendidikan.

Untuk menjadi anggota HMI kawan-kawan mahasiswa baru dapat mendaftarkan diri lewat HMI Komisariat Hukum untuk mengikut Maperca (Masa Perkenalan Calon Anggota) selanjutnya Latihan Kader I dan jika lulus kawan-kawan dapat menjadi bagian dari keluarga besar HMI, berhak mengikuti seluruh proses pengkaderan dan kegiatan HMI.

YAKIN USAHA SAMPAI

Salam HMI Komisariat FKIP UNSYIAH.

BANDA ACEH

(Asyiknya Masuk HMI…???)

Apa sih... Asyiknya Masuk HMI …???

Masuk Organisasi enaknya apaan sih???

 

Katanya…(ini baru katanya lho?!?) masuk organisasi tuh, apapun namanya atau sejenisnya bikin mumet. Apalagi yang namanya mahasiswa baru, boro-boro mikirin organisasi, mikirin mau kuliah juga bingung, gitchu lho!!!.Biasanya awal kuliah, mahasiswa baru udah ngerasa grogi duluan. Memang sih ada enaknya, karena dengan menjadi mahasiswa merupakan gerbang menuju kedewasaan serta mencoba untuk hidup mandiri (makan and minum dikosan sendiri).

Namun tidak dapat kita pungkiri bahwa sebagian dari mereka ada yang ngerasa bingung, entarnya mau ngapain aja ya?, bakal dapat teman yang asyik ga ya?, adaptasinya mesti gimana nich?, semuanya jadi beban dalam otak, yang namanya, mahasiswa baru. And ditambah lagi adanya ketakutan akan hancurnya nilai gara-gara males belajar pas kenal and sibuk diorganisasi.

 

Gitu aja kok repot???

Teman-teman pasti ingat dengan guyonan diatas. Yup, kata-kata itu yang pernah dilontarkan oleh mantan presiden kita, Alm Abdurrahman Wahid, yang akrab dipanggil Gus Dur. Emang terdengar enteng, tapi maknanya dalemmmm....bo’. Ngapain mesti ngeri masuk organisasi, masalah n ketakutan kita akan hal-hal di atas bakal terselesaikan. Insya Allah.

Dengan masuk organisasi kita akan dapat beberapa keuntungan :

Kalo masuk organisasi, so kita punya temen-temen baru, keluarga baru, tempat kita berbagi suka duka. Coz ama teman-teman organisasi biasanya lebih mudah akrab n bisa jadi tempat curhat.

Masuk organisasi, bisa ngemudahin kita dalam kuliah. Kok bisa? Lha iyalah, khan banyak kakak angkatan, so bisa minta tolong buat ngebantuin kita bikin tugas kuliah, n jadi alternatif awal tempat pinjem buku sebelum keperpustakaan kampus. Lebih mudah khan???

Ajang cari jodoh.He...he…mungkin terdengar agak klasik, tapi udah kebukti dari generasi ke generasi. Gimana enggak coba, awalnya ngeceng biasa, trus tiap hari sering ketemu, becanda bareng, ngebuat kita ngerasa nyaman, trus timbul deh rasa (rasa strawbery kale…!!!). Karena sudah lama bareng, kita jadi lebih mudah mengenal sifat dia n ngemudahin kita buat ngertiin doi (ha…jadi pengen nich).

Masuk organisasi juga, ngelatih kita terbiasa beretorika n ngga canggung buat ngomong didepan umum. Jadinya pas dikelas kita bisa terlatih untuk aktif diskusi, tentu saja dengan tetap memperhatikan etika berdiskusi. Enaknya, selaen dapet nilai bagus dari dosen, kita juga bakal dideketin sama teman-teman kelas.

Nilai hancur karena malas belajar??? Engga lha ya!!! Dengan berorganisasi kita bisa terlatih buat memanage waktu. So, kalo dah pinter buat ngatur waktu n jadwal pribadi, semua urusan lancar.

Terakhir, bisa buat ngebangun Link. Suatu organisasi tuh biasanya sering kerjasama sama organisasi lain, engga terkecuali dengan orang-orang penting atawa akrab dipanggil pejabat. Dari mereka kita bisa kerjasama buat ngebantuin dana kalo ada kegiatan. Termasuk juga kerjasama dengan perusahaan-perusahaan tertentu yang biasanya jadi donatur. Jadinya, sambil menyelam bisa sekalian minum air. Artinya pas kita udah kenal, lumayan buat dijadiin link waktu cari kerja.

Nah ternyata ngga susah n ribet seperti yang kita bayangkan khan? Dibikin  enak aja!!! Karna hidup lebih berarti dari yang kita bayangkan....

HMI ??? apaan tuh?

Masuk HMI enaknya apaan sih???

Panji HmI

HMI tuh, kepanjangannya Himpunan Mahasiswa Islam. Artinya, suatu organisasi yang anggota atawa pengurusnya haruslah mahasiswa yang beragama Islam, baik mahasiswa yang lagi kuliah di D3, S1, maupun S2.

Islam??? Duh…jangan keder dulu dong. Disini ngehargain yang namanya prularisme atau perbedaan pemahaman teman-teman tentang Islam. Tapi tentu saja harus argumentatif biar kita ngga mudah digoyahkan.

Lalu enaknya masuk HMI tuh apaan?

HmI KomHuk Unpas kembali Turun Kejalan, !


Yang jelas, keuntungan masuk organisasi seperti yang udah dijelaskan diatas, bakal kita dapatkan kalau kita masuk HMI. Selain itu, kita juga dapat terus menambah wawasan. Kok bisa??? Yup, karena di HMI tuh sering ngadain kajian-kajian, baik kajian dibidang hukum maupun non hukum. Kajian non hukum misalnya bidang social, agama, budaya, politik dan filsafat. Bosen??? Nggak dongg . . .!!!

Karna selain ngadain kajian, di HMI khususnya komisariat hukum Unpas, kita juga punya agenda konsilidasi yang asyik-asyik. Sifatnya refresing dan jalan-jalan gitu dechh. Misalnya adanya futsal, foto bareng, kemping bareng, jalan-jalan, hang out rame-rame, dan lain-lain yang ngebikin kita have fun tapi teteuuuup intelek. Nah asyik khan masuk HMI? So, ngga ada alasan lagi buat ga gabung ama kita!!! Buruan……atuch!!!

Sumber :

http://ivankyakusa.blogspot.com/p/asyiknya-masuk-hmi.html?m=1

Pengurus Himpunan Mahasiswa (HMI) Komisariat FKIP 2014-2015

Assalamualaikum wr.wb

KETUA UMUM :  ANDI KURNIAWAN

Ketua bidang pembinaan anggota :
-  Burhannudin Hasan.
Ketua bidang perguruan tinggi dan kemahasiswaan :
-  Chaerol Rizal.
Ketua bidang pemerdayaan perempuan :
-  Rumaisha aziza siregar
Ketua bidang penelitian dan pengembangan :
-  Suhada
Ketua Bidang kekaryaan :
Satria Rizki

SEKRETARIS UMUM : MUHAMMAD NOVAL

Wakasekum Bidang Pembinaan anggota :
-  Muammar
Wakasekum Bidang Perguruan tinggi dan Kemahasiswaan :
-  Syahrul Indra
Wakasekum Bidang Pemerdayaan Perempuan :
-  Anggi Destiana
Wakasekum bidang penelitian dan pengembangan :
-  Oga Umar dhani
Wakasekum Bidang Kekaryaan :
- Muhammad Rizal

BENDAHARA UMUM : DARMA
wakil Bendahara umum : Leni Astika

DEPARTEMEN - DEPARTEMEN
Departemen Internal :
-  Muhammad Ichsan
Departemen Eksternal :
-  Cut Ika Mauliza
Departemen Kajian Islam :
-  Isra Praja Purnama
Departemen Komunikasi dan Informasi :
-  Rizal Fuzari

Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) FKIP 2014/2015

Wassalam