Tampilkan postingan dengan label kajian islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 April 2015

Umat Islam Diimbau Makmurkan Masjid

  

  Guruyakusaku- Wakil Bupati Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rustamsyah menghimbau seluruh umat Islam di daerahnya untuk memakmurkan masjid di lingkungan masing-masing agar syiar Islam terus berkembang.
"Saya ajak seluruh umat Islam untuk memakmurkan masjid sebagai sarana ibadah dan membangun silaturahim," katanya saat meresmikan Masjid Jami Al Ijtihad di Desa Jada Bahrien, Kota Sungailiat, Jumat (3/4).
Menurut dia, masjid merupakan sarana ibadah yang tepat untuk membangun kekuatan silaturahim karena pengaruh globalisasi yang makin kuat.
"Perlu pemahaman yang cukup mendalam untuk peningkatan kualitas keimanan seseorang dari pengaruh era teknologi yang berkembang pesat," katanya.
Secara umum, kata dia, kerukunan umat beragama di Provinsi Bangka Belitung cukup terjaga dan kebersamaan sebagai modal utama mewujudkan pemeratan pembangunan daerah sebagimana program yang direncanakan.
"Intinya, pemerintah tetap mendukung sepenuhnya kegiatan keagamaan untuk menciptakan generasi umat beragama yang berkualitas termasuk mendukung pembangunan sarana ibadah," ujarnya.
Dia menginginkan agar setiap selesai sholat magrib di setiap masjid di wilayahnya dilaksanakan kegiatan mengaji kitab suci Al Quran sambil menunggu datangnya waktu shalat Isya.
"Saya menginginkan agar setiap selesai sholat Magrib, jamaah di masjid tidak langsung pulang namun dilanjutkan dengan membaca kitab suci Al Quran sampai tibanya waktu sholat Isya. Rutinitas mengaji Al Quran setiap selesai sholat Magrib merupakan wujud dukungan masyarakat terhadap program magrib mengaji yang sebelumnya sudah dicanangkan," pungkasnya.
Sumber : Antara

Rabu, 01 April 2015

Miskin yang Sabar atau Kaya yang Bersyukur?

    Manakah yang lebih mulia antara orang miskin yang bersabar atau orang kaya yang bersyukur? Orang miskin yang beriman dapat masuk surga sekian ratus tahun lebih cepat daripada orang kaya. Tapi itu jika mengabaikan faktor lain seperti apakah orang miskin sudah pasti tidak punya dosa? Belum lagi, orang miskin juga belum tentu bebas dari berbagai sifat hasad (iri dan dengki) misalnya, sombong, dan berbagai sifat ‘manusiawi’ lainnya.

Selain itu, ketidak-ikhlasan dan riya terhadap orang lain bisa saja dimiliki oleh orang yang tidak beramal. Artinya, sangat sering orang miskin dipenuhi kecurigaan dalam melihat amal orang kaya. Bahkan dalam diri orang miskin pun bisa bercokol kesombongan, dan itulah kesombongan yang paling dibenci Allah.

Tidak sedikit pula manusia yang jebol pertahanannya karena kemiskinan, mengambil milik orang lain, mencuri, terjerumus pada dunia hitam, menjual diri (melacur), maupun kehinaan lainnya, sebagaimana sajak WS Rendra:

Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan


Meski begitu, pintu-pintu kebaikan tidak tertutup sama sekali bagi orang-orang miskin. Karena dzikir, tasbih, tahmid, takbir dan dzikir lainnya dapat menjadi sedekah bagi orang-orang yang tidak mampu bersedekah dengan harta. Kesabaran menjalani hidup dalam kekurangan juga merupakan keutamaan. Dikisahkan, segolongan sahabat yang miskin datang kepada Rasulullah. Mereka mengeluh karena keadaan yang membelit tidak memungkinkan mereka untuk beramal sebagaimana orang-orang kaya beramal dengan harta mereka.

Oleh Rasulullah, kepada golongan papa tersebut diajarkan agar setiap selesai shalat membaca tasbih, tahmid dan takbir 100 kali, yang keutamaannya menyamai infaq dan shadaqah yang dikeluarkan orang-orang kaya. Pulanglah para fuqara tersebut dan mengamalkan dzikir itu setiap selesai shalat mereka.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang kaya dari para sahabat pun mengetahui keutamaan dzikir atau wirid yang Rasulullah ajarkan untuk diamalkan selesai shalat. Mereka pun berdzikir sama seperti dzikir orang-orang miskin tersebut. Kembalilah para fuqara kepada Rasulullah dan mengadu, bahwa orang-orang kaya telah berdzikir dengan wirid yang sama. Dengan demikian artinya lagi-lagi golongan miskin kalah daripada golongan kaya dalam hal amal kebaikan.

Sabda Rasulullah mengenai hal tersebut: “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Hadits Muttafaqun ‘Alaih).

Mengapa Kita Harus Kaya?

Banyak sekali jawaban untuk satu pertanyaan tersebut. Dengan uang, banyak hal menjadi mudah. Dengan uang, ibadah-ibadah seperti haji, umrah, qurban, aqiqah dan sebagainya kita tunaikan. Demikian juga halnya dengan pembayaran zakat, fidyah, kafarah, membebaskan budak, menyantuni faqir miskin dan menafkahi anak yatim.

Hingga zaman ini masih banyak masyarakat yang terjerat hutang pada lintah darat (rentenir). Hal itu terpaksa mereka tempuh karena melihat bahwa itu adalah satu-satunya solusi –karena ketidaktahuan atau karena terlanjur terjebak. Alangkah baiknya jika kita mampu memberi solusi untuk mereka melepaskan diri dari jeratan hutang bunga berbunga tersebut. Tentunya untuk itu diperlukan modal yang cukup. Artinya, lagi-lagi itu adalah masalah uang.

Tidak sedikit di antara kita yang suatu kali dimintai tolong oleh teman; pinjam uang. Bagaimana perasaan kita ketika pada waktu kawan dekat, tetangga atau saudara kita itu begitu butuh bantuan, tetapi pada saat yang sama kita tidak bisa membantu? Misalnya ketika tetangga atau teman dekat terkena musibah, persiapan nikah, persalinan di rumah sakit, membayar hutang yang jatuh tempo dan sebagainya. Kita pasti merasa trenyuh, malu dan sekaligus merasa bersalah jika tidak bisa membantu mereka. Lain halnya jika kita ada uang untuk membantu mereka, sebagai manusia normal pastilah batin kita merasa senang bisa membantu teman, membantu meringankan beban mereka meski sedikit.

Harus kita akui bahwa begitu banyak persoalan yang berpangkal pada kemiskinan. Di antaranya kebodohan, tindak kriminal, pelacuran dan sebagainya. Karena orangtua miskin, anak-anak tidak bisa bersekolah, dan karenanya mereka tetap dalam keadaan bodoh, karena kebodohan itu maka mereka tidak dapat meraih pekerjaan yang baik, akhirnya mereka terus-menerus berkubang dalam kemiskinan. Itulah lingkaran setan antara kemiskinan dan kebodohan. Begitu juga dengan besarnya angka kriminalitas karena faktor ekonomi, seperti pencurian, penodongan, perampokan dan sebagainya. Bahkan karena alasan miskin, tidak sedikit yang terjerumus ke dalam pelacuran.Na’udzubillah. Hal itu sepertinya sudah menjadi kesimpulan umum mengenai dampak negatif akibat kemiskinan.

Keutamaan Muslim Kaya

Dalam hadits yang agak panjang di atas telah jelas kiranya keutamaan orang-orang mukmin yang kaya, yang dengan hartanya tersebut dapat mengerjakan amal ibadah yang lebih dibanding dari orang-orang mukmin dari golongan miskin.

Itulah kekayaan yang mendatangkan kebaikan. Kekayaan yang tidak ditahan-tahan dengan kepelitan, takut miskin atau kekufuran terhadap Allah Sang Maha Pemberi. Orang-orang seperti itulah yang harus membuat orang-orang miskin terpacu. Bahkan ‘iri’ dalam konteks yang demikian diperbolehkan. Tidak boleh ada rasa iri kecuali dalam dua hal, yaitu:

Seseorang yang Allah karuniai kekayaan kemudian dibelanjakan pada jalan yang haqSeseorang yang Allah karuniai hikmah (ilmu), dia amalkan dan mengajarkannya. (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Dalam koridor itulah kekayaan menjadi keutamaan dan menambah kedekatan di sisi Allah. Kekayaan yang mampu menyelamatkan manusia dari api neraka. Kekayaan yang bermanfaat bagi kehidupan dan sesama, menyelamatkan orang-orang miskin dari jurang kehinaan dan lembah hitam. Mencegah mereka yang karena amat miskinnya sehingga terpaksa atau tergoda untuk menjual kehormatan, menempuh jalan yang haram, menyakiti sesama, mengambil hak milik orang lain dan berbagai pelanggaran lain.

Jika orang-orang kaya bersikap sebagaimana seharusnya, mendatangkan banyak kemaslahatan dan meminimalkan atau menetralisir berbagai potensi kejahatan, maka mereka insya Allah menjadi golongan yang lebih dicintai Allah.

Sumber : hminews.com

Dari Islam untuk Kemaslahatan Semua

     Ada dua pengertian khalifah menurut Al Qur’an. Konsep pertama khalifah universal, yaitu bahwa semua manusia adalah khalifah Allah di muka bumi, sebagaiman tujuan penciptaan Adam dan keturunannya (QS Albaqarah 30). Kedua adalah khalifah dalam pengertian spesifik, yaitu sebagai penguasa, sebagaimana ayat yang menceritakan kisah Dawud. “Wahai Dawud, sesungguhnya Kami telah menjadikanmu khalifah di bumi, maka putuskanlah hukum di antara manusia dengan adil dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah (Shad: 36).”
Term khalifah yang dikenakan pada Adam adalah universal yang melekat pada setiap individu, setiap insan itu adalah khalifah Allah. Jadi semua kita, apapun agamanya maupun kelaminnya, adalah khalifah Allah. Sebagai khalifah Allah kita diberi kemampuan untuk menguasai alam ini, maka di dalam Al Qur’an disebut “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya…”
Untuk membuktikan dan memampukan manusia sebagai khalifah Allah, Allah mengajarkan asma’. Apa asma’ itu adalah konsep-konsep, seluruh konsep makhluk yang ada di bumi. Karena secara universal tugas manusia adalah untuk memakmurkan bumi. Ini mengena pada seluruh umat manusia tanpa membedakan agama, seluruh umat manusia adalah khalifah Allah, apapun agamanya, apapun keyakinannya, bahkan yang tidak beragama pun khalifah Allah di muka bumi.
Yang kedua, khalifah dalam konsep kehidupan bermasyarakat, khalifah dalam pengertian kekuasaan politik, inilah yang pertama ditegaskan kepada Nabi Dawud dalam ayat di atas. Khalifah dalam pengertian yang kedua inilah rupanya yang diperebutkan, termasuk oleh ISIS sekarang ini.
Khalifah universal, personal, kita semua adalah khalifah Allah apapun agamanya, apapun suku bangsanya, apapun keyakinannya.
Mulai dari yang tertinggi sebagai presiden, gubernur, sampai lurah, itu adalah khalifah Allah. Dan alhamdulillah kita sudah melihat bukti, bahwa banyak presiden, penguasa, disumpah dengan menyebut nama Allah. Jadi itu juga mengingatkan ‘Anda ini sesungguhnya khalifah Allah.’ Presiden Amerika itu tidak menyebut nama Allah tetapi paling tidak ada kata ‘God’ yang berarti Tuhan, yang juga diucapkan dalam sumpah jabatannya.
Jadi konsep khilafah yang diusung oleh Hizbut Tahrir, ISIS dan sebagainya, itu bertentangan dengan kodrat manusia yang telah diciptakan oleh Allah berbangsa-bangsa, bersuku-suku, untuk saling mengenal. Jadi kalau kita mendirikan khilafah untuk konteks Indonesia, itu sah. Jadi tidak harus khilafah itu universal, itu pengingkaran terhadap penciptaan yang Allah sendiri mengakui faktor kesukuan, bangsa dan sebagainya.
Yang paling fatal adalah konsep khilafah yang sekarang sedang diusung untuk agama tertentu itupun yang mempunyai paham tertentu saja. Buktinya yang terjadi sesama Islam saling serang, bukan saling melindungi.
Khalifah Allah dalam kehidupan dunia merujuk kepada sifat Allah: Ar Rahman, merahmati seluruh makhluk-NYA. Bumi Allah ini tidak pernah menolak orang dengan agama apa pun, air-Nya juga tidak pernah menolak diteguk oleh orang yang tidak beragama Islam, demikian juga dengan udara-Nya yang tidak pernah menolak dihirup oleh siapa saja.
Maka semua khalifah Allah adalah penguasa dengan sifat Rahman. Beda dengan sifatRahim, yang menghakimi iman, yang hanya terjadi nanti di hari akhir. Maka manusia di dunia ini tidak bisa menghakimi keyakinan.
Menerapkan sifat yang Rahmaani, bukanRahiimi. Negeri ini untuk semua warga bangsa, siapapun mereka, apapun agamanya, dan penguasa di negeri ini disumpah atas nama Allah tetapi bertindak untuk kemaslahatan seluruh warga, apapun agama dan keyakinan yang dianut. Itulah hamba Allah dengan sifat Ar Rahman
Sudah saatnya kedepan Indonesia harus menjadi pemimpin dalam wacana menyambung hubungan Islam dan negara. Islam di Timur Tengah sana memerlukan sekali uluran tangan dari kita tentang bagaimana merumuskan hubungan agama dan negara. Memang Pancasila sebagai landasan negara bukan bahasa Arab, tetapi dalam bahasa lokal kita, tapi makna dan substansinya sangat-sangat islami. Ketuhanan yang Maha Esa tidak bisa diartikan lain kecuali sebagai tauhid. Kemanusiaan yang adil dan beradab tidak lain adalah pemuliaan terhadap manusia, “Sesungguhnya telah Kami muliakan bani Adam..” Persatuan Indonesia tidak bisa dimaknai kecuali persatuan, persaudaraan antara warga bangsa. Permusyawaratan tidak lain adalah ‘syura bainahum.’ Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, al ‘adalah (keadilan). Sekiranya dalam negara Islam, satu saja, keadilan, sebagai landasannya, sudah cukup.
Akhirnya kita harus pede menawarkan konsep hubungan agama dan negara seperti terjadi dengan kita.
Dari ceramah Masdar F Mas’udi, yang disampaikan pada 21 Agustus 2014 di Gedung Nusantara V, Senayan, dalam Silaturahmi Idul Fitri 1435 H Majlis Nasional KAHMI bertema ‘Merajut Ukhuwah Membangun Bangsa’
Sumber : Hminews.com