Rabu, 01 April 2015

Mengurangi Dominasi Politik Aktivis dengan "Bisnis"

    ‘Perselingkuhan’ antara politik dengan bisnis kerap terjadi di Indonesia dan hal itu merusak tatanan. Penyebabnya adalah tidak-mandirinya secara ekonomi orang-orang yang terjun di dunia politik yang tergiur dan menggadaikan idealisme. Hal itu juga tak luput menimpa para politisi yang berlatar belakang aktivis.

Menurut Ketua Departemen Bisnis Majelis Nasional KAHMI, Ismed Hasan Putro, Business Award digagas sebagai salahsatu usaha untuk mengurai karut-marut tersebut, selain tentu saja, untuk menyeimbangkan iklim dalam HMI yang cenderung didominasi orang-orang politik. Padahal, lanjutnya, ekonomi tidak kalah pengaruhnya terhadap politik, bahkan lebih besar.

Ia mencontohkan dengan yang terjadi di Amerika Serikat. “Yang berkuasa di Amerika bukan para politisi, bukan Presiden Obama (sekarang), tetapi dua ‘General’. Yaitu General Motor dan General Electric,” ujar Ismed.

Meski terlambat, ia mengakui, tetapi KAHMI Business Award akan menjadi langkah awal untuk mengembangkan kewirausahaan di kalangan alumni HMI. Koordinator Presidium Nasional KAHMI, Mahfud MD, setuju dengan ide KAHMI Business Award. Meski ‘menyimpang dari arus utama’ dalam HMI, tetapi bisnis perlu dikembangkan. Ia berharap dengan adanya gerakan yang dimotori KAHMI tersebut akan memperbaiki keadaan, bisnis tidak mengotori politik, politik tidak memperalat bisnis.

Mahfud MD juga menjelaskan ayat mengenai bisnis yang baik akan menyelamatkan manusia dari neraka. Yaitu bisnis yang dilandasi iman, yang dengan demikian sudah pasti pelakunya tidak akan berbuat curang. Kemudian juga dengan harta yang diperoleh dari bisnis tersebut digunakan untuk berjihad di jalan Allah.

Salahsatu penerima penghargaan, Fajar Zulkarnaen, mengaku lebih senang berbisnis daripada terjun ke politik karena alasan idealisme, dan bahwa perpolitikan Indonesia kini yang terlalu ‘kotor.’  Namun, ia menegaskan bukan berarti politik tidak baik, tetapi ada saatnya terjun ke politik jika telah siap segala-galanya.

Sumber : hminews.com

Loyalitas, Solidaritas dan Soliditas

     Ada sejumlah faktor yang membuat orang loyal terhadap kesatuan, kelompok, organisasi atau perusahaannya. Faktornya tidak hanya nilai materi, terbukti banyak orang yang bertahan meski ditawari gaji yang lebih tinggi di tempat lain, jika dalam kelompoknya itu merasa dapat lebih memperjuangkan tujuan-tujuan yang lebih besar, tanpa harus mengubur impian pribadi.
Sebaliknya, jika organisasi atau perusahaan sudah dianggap tidak lagi akomodatif terhadap tujuan tersebut, maka kemungkinan untuk bertahan amat kecil dan hengkangnya orang-orang yang kecewa tersebut tinggal menunggu waktu saja.
Solidaritas tumbuh dari kebersamaan. Kebersamaan dijalin tidak hanya saat berada dalam lingkungan pekerjaan atau organisasi, tetapi banyak hal dan kesempatan lain yang dapat memperkuat solidaritas. Mulai dari yang paling sederhana dan  tidak mesti yang berkaitan dengan pekerjaan, namun bisa dari hal-hal pribadi dan keluarga. Yaitu dengan memahami persoalan apa saja yang dihadapi orang lain dan kemudian menawarkan bantuan, langsung membantu atau mencarikan solusi tanpa harus diminta.
Urusan pribadi misalnya rekan kita si “A” sedang mempersiapkan pernikahan. Dari satu hal ini saja terbuka kesempatan lebar untuk membantunya mulai dari mengurus undangan, tempat resepsi, baju pengantin, hingga persoalan mahar. Proses menjelang pernikahan biasanya amat menguras energi dan pikiran, apalagi waktunya yang semakin dekat, sedangkan persiapan belum sempurna. Bisa jadi karena biaya yang masih kurang, konflik keluarga atau entah apa lagi. Dari kejadian yang sudah-sudah, ada saja sahabat dekat yang terlewatkan dan tidak diundang. Bukan kesengajaan, tapi karena berbagai persoalan yang karenanya harus dibantu oleh sahabat-sahabat lain untuk mengurusnya.
Selain itu, jangan sepelekan pemberian penghargaan meskipun terkesan remeh dan jangan sungkan-sungkan berterimakasih kepada sesama anggota, bawahan serta semua yang terlibat. Jangan pelit pujian. Perlakuan yang ‘meng-orang-kan’ tersebutlah yang kerap dapat membuat musuh berbalik menjadi kawan, kompetitor berubah jadi mitra, serta mengubah kesinisan orang menjadi simpati. Apalagi orang-orang yang telah menjadi bagian dari tim dan kesatuan.
Mempelajari Hal-hal Baru
Manusia secara umum adalah makhluk yang terus-menerus belajar. Setua apa pun pasti tertarik pada hal-hal baru, ingin mencoba berbagai hal yang tidak biasa, tergoda menguasai berbagai kemampuan baru. Selain bermanfaat bagi organisasi atau perusahaan, pola semacam itu pun menguntungkan karyawan atau anggota organisasi secara pribadi, sebab kapasitas diri mereka bertambah. Kemampuan mereka pun tidak itu-itu saja, tapi terus berkembang. Dengan dasar yang demikian itulah setiap pemimpin perlu memberi tugas atau pekerjaan yang menantang bagi karyawan, bawahan atau anggota organisasi – perusahaan yang dipimpinnya. Pekerjaan yang menantang tersebut sekaligus menjadi ajang pembelajaran hal-hal baru agar iklim kerja lebih bergairah dan tidak monoton.
Kegairahan semacam itu perlu dijaga dan terus ditumbuhkan agar produktivitas tidak merosot. Karena kehilangan kegairahan bisa berarti pula sebagai kehilangan orientasi. Meski tujuan yang dirumuskan sejak semula untuk dicapai begitu muluk, tapi jika kegairahan bekerja telah hilang, mustahil semua dapat tercapai. Semua aktivitas bisa tanpa makna dan tidak berarti apa-apa, tidak berdampak pada kemajuan, tidak menambah keuntungan, tidak menghasilkan karya dan prestasi. Itu artinya sia-sia sajalah waktu yang telah dilewatkan, padahal waktu amat berharganya. Demikian juga dengan cost atau biaya atas semua yang dikeluarkan seperti biaya perjalanan, listrik, sewa rumah, makan-minum, serta biaya-biaya lain yang semestinya tidak hilang begitu saja, tetapi harus mendatangkan hasil.
Tetapi dalam mempelajari dan beradaptasi dengan hal baru itu sangat mungkin terjadi kesalahan, entah kecil atau besar. Pemimpin harus memaklumi dan memaafkan kekeliruan itu dan menumbuhkan sikap percaya diri bawahannya, memastikan tidak terjadi apa-apa, mereka tidak akan dihukum kecuali karena kesalahan yang disengaja. Kesalahan-kesalahan itu akan menjadai guru yang mengajarkan bagaimana semestinya, bagaimana benarnya dan apa saja yang tidak benar dan tidak perlu diulang.
Pelibatan Termasuk dalam Pengambilan Keputusan
Sebagaimana umum pahami, pengambilan keputusan merupakan tugas pimpinan. Sedangkan anggota yang lain atau bawahan menjalankan keputusan yang telah dibuat itu. Akan tetapi secara psikologis perlu diingat kembali bahwa ‘mengambil hati’ orang meskipun bawahan tidaklah mudah. Pemimpin yang tidak berhasil mengambil hati orang yang dipimpinnya bisa saja dipatuhi atau ditakuti, tetapi tidak mempunyai wibawa. Ketakutan bawahan hanya bersifat karena pimpinan itu bisa memutuskan perkara yang menyangkut ‘nasib’ atau posisi dan jabatannya dalam suatu lingkaran pekerjaan organisasi-perusahaan.
Meski pengambilan keputusan adalah kewenangan pimpinan, ‘nasib’ suatu keputusan tersebut apakah dapat dijalankan dengan baik atau tidak, bisa mencapai tujuan ataukah gagal, bergantung dari orang-orang yang akan terlibat langsung dalam usaha itu, yaitu seluruh anggota, karyawan atau pekerja. Bisa saja keputusan-keputusan itu bersesuaian atau tidak sesuai dengan keinginan banyak orang. Jika demikian halnya, hampir bisa dipastikan maka mereka akan setengah hati menjalankannya, sehingga hasilnya pun tidak akan maksimal.
Meski pengambilan keputusan adalah kewenangan pimpinan, ‘nasib’ suatu keputusan tersebut apakah dapat dijalankan dengan baik atau tidak, bisa mencapai tujuan ataukah gagal, bergantung dari orang-orang yang akan terlibat langsung dalam usaha itu, yaitu seluruh anggota, karyawan atau pekerja

Seperti ketika Walikota Solo -Jokowi- yang terlebih dahulu berdialog dengan pedagang-pedagang pasar sebelum mereka dipindahkan (direlokasi) ke tempat lain. Sebelum mengatakan bahwa mereka harus pindah, Jokowi telah berdialog dengan mereka sebanyak 53 kali. Dalam dialog tersebut sambil mempererat silaturahmi, ia memahamkan dan meyakinkan para pedagang. Kemudian pada pertemuan ke 54 barulah dinyatakan keinginannya, tepatnya tawaran kepada para pedagang kakilima tersebut untuk pindah ke lokasi baru.

Belajar dari Peristiwa Pemindahan Hajar Aswad
Pemindahan Hajar Aswad (batu hitam) yang merupakan bagian dari bangunan Ka’bah atau Baitullah nyaris memicu perpecahan Kaum Quraisy di zaman jahiliyah. Sebagai bagian penting dan simbol utama bangunan utama tersebut, semua golongan merasa paling berhak atasnya, tidak rela jika kelompok lain yang mendapat kehormatan mengangkat dan menempatkannya pada posisi semula seusai pemugaran Ka’bah.
Ketegangan makin memuncak sebab tidak ada yang mau mengalah. Bahkan untuk mempertahankan kehormatan kelompok masing-masing, jalan kekerasan pun bisa ditempuh untuk itu. Karena tidak kunjung didapatkan jalan keluar, akhirnya semua sepakat untuk mengangkat penengah dari orang yang pertama kali datang ke Baitullah, dan ternyata Muhammad adalah orangnya.
Muhammad mengemukakan usul agar dibentangkan kain dan para pemimpin kabilah memegang tiap tepinya, kemudian Muhammad yang mengangkat Hajar Aswad ke atas sorban panjang, dan mereka menggotongnya. Pelibatan itu tidak hanya menenteramkan, tapi juga mengangkat harga diri semua kelompok. Dan Muhammad pun makin dipercaya dalam menyelesaikan berbagai persoalan maupun mengemban amanah kemasyarakatan.
Satu contoh ini menunjukkan bahwa penting meletakkan dasar kesatuan kelompok dengan mengangkat harga diri dan membuat masing-masing kelompok tersebut berperan dalam mewujudkan cita-cita bersama. Tidak ada yang merasa dikorbankan sebagai objek pelengkap bagi kelompok lain dalam satu kesatuan masyarakat.
Ya Allah himpunkanlah hati kami dan perbaikilah keadaan kami, berilah kami petunjuk jalan keselamatan dan selamatkanlah kami dari kegelapan kepada cahaya. Jauhkanlah kami dari segala keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi. Berkahilah kami dalam pendengaran kami, penghilatan kami, hati kami dan pasanga-pasangan kami serta keturunan kami. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat Maha Penyayang. 
Sumber : hminews.com

Dari Islam untuk Kemaslahatan Semua

     Ada dua pengertian khalifah menurut Al Qur’an. Konsep pertama khalifah universal, yaitu bahwa semua manusia adalah khalifah Allah di muka bumi, sebagaiman tujuan penciptaan Adam dan keturunannya (QS Albaqarah 30). Kedua adalah khalifah dalam pengertian spesifik, yaitu sebagai penguasa, sebagaimana ayat yang menceritakan kisah Dawud. “Wahai Dawud, sesungguhnya Kami telah menjadikanmu khalifah di bumi, maka putuskanlah hukum di antara manusia dengan adil dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah (Shad: 36).”
Term khalifah yang dikenakan pada Adam adalah universal yang melekat pada setiap individu, setiap insan itu adalah khalifah Allah. Jadi semua kita, apapun agamanya maupun kelaminnya, adalah khalifah Allah. Sebagai khalifah Allah kita diberi kemampuan untuk menguasai alam ini, maka di dalam Al Qur’an disebut “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya…”
Untuk membuktikan dan memampukan manusia sebagai khalifah Allah, Allah mengajarkan asma’. Apa asma’ itu adalah konsep-konsep, seluruh konsep makhluk yang ada di bumi. Karena secara universal tugas manusia adalah untuk memakmurkan bumi. Ini mengena pada seluruh umat manusia tanpa membedakan agama, seluruh umat manusia adalah khalifah Allah, apapun agamanya, apapun keyakinannya, bahkan yang tidak beragama pun khalifah Allah di muka bumi.
Yang kedua, khalifah dalam konsep kehidupan bermasyarakat, khalifah dalam pengertian kekuasaan politik, inilah yang pertama ditegaskan kepada Nabi Dawud dalam ayat di atas. Khalifah dalam pengertian yang kedua inilah rupanya yang diperebutkan, termasuk oleh ISIS sekarang ini.
Khalifah universal, personal, kita semua adalah khalifah Allah apapun agamanya, apapun suku bangsanya, apapun keyakinannya.
Mulai dari yang tertinggi sebagai presiden, gubernur, sampai lurah, itu adalah khalifah Allah. Dan alhamdulillah kita sudah melihat bukti, bahwa banyak presiden, penguasa, disumpah dengan menyebut nama Allah. Jadi itu juga mengingatkan ‘Anda ini sesungguhnya khalifah Allah.’ Presiden Amerika itu tidak menyebut nama Allah tetapi paling tidak ada kata ‘God’ yang berarti Tuhan, yang juga diucapkan dalam sumpah jabatannya.
Jadi konsep khilafah yang diusung oleh Hizbut Tahrir, ISIS dan sebagainya, itu bertentangan dengan kodrat manusia yang telah diciptakan oleh Allah berbangsa-bangsa, bersuku-suku, untuk saling mengenal. Jadi kalau kita mendirikan khilafah untuk konteks Indonesia, itu sah. Jadi tidak harus khilafah itu universal, itu pengingkaran terhadap penciptaan yang Allah sendiri mengakui faktor kesukuan, bangsa dan sebagainya.
Yang paling fatal adalah konsep khilafah yang sekarang sedang diusung untuk agama tertentu itupun yang mempunyai paham tertentu saja. Buktinya yang terjadi sesama Islam saling serang, bukan saling melindungi.
Khalifah Allah dalam kehidupan dunia merujuk kepada sifat Allah: Ar Rahman, merahmati seluruh makhluk-NYA. Bumi Allah ini tidak pernah menolak orang dengan agama apa pun, air-Nya juga tidak pernah menolak diteguk oleh orang yang tidak beragama Islam, demikian juga dengan udara-Nya yang tidak pernah menolak dihirup oleh siapa saja.
Maka semua khalifah Allah adalah penguasa dengan sifat Rahman. Beda dengan sifatRahim, yang menghakimi iman, yang hanya terjadi nanti di hari akhir. Maka manusia di dunia ini tidak bisa menghakimi keyakinan.
Menerapkan sifat yang Rahmaani, bukanRahiimi. Negeri ini untuk semua warga bangsa, siapapun mereka, apapun agamanya, dan penguasa di negeri ini disumpah atas nama Allah tetapi bertindak untuk kemaslahatan seluruh warga, apapun agama dan keyakinan yang dianut. Itulah hamba Allah dengan sifat Ar Rahman
Sudah saatnya kedepan Indonesia harus menjadi pemimpin dalam wacana menyambung hubungan Islam dan negara. Islam di Timur Tengah sana memerlukan sekali uluran tangan dari kita tentang bagaimana merumuskan hubungan agama dan negara. Memang Pancasila sebagai landasan negara bukan bahasa Arab, tetapi dalam bahasa lokal kita, tapi makna dan substansinya sangat-sangat islami. Ketuhanan yang Maha Esa tidak bisa diartikan lain kecuali sebagai tauhid. Kemanusiaan yang adil dan beradab tidak lain adalah pemuliaan terhadap manusia, “Sesungguhnya telah Kami muliakan bani Adam..” Persatuan Indonesia tidak bisa dimaknai kecuali persatuan, persaudaraan antara warga bangsa. Permusyawaratan tidak lain adalah ‘syura bainahum.’ Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, al ‘adalah (keadilan). Sekiranya dalam negara Islam, satu saja, keadilan, sebagai landasannya, sudah cukup.
Akhirnya kita harus pede menawarkan konsep hubungan agama dan negara seperti terjadi dengan kita.
Dari ceramah Masdar F Mas’udi, yang disampaikan pada 21 Agustus 2014 di Gedung Nusantara V, Senayan, dalam Silaturahmi Idul Fitri 1435 H Majlis Nasional KAHMI bertema ‘Merajut Ukhuwah Membangun Bangsa’
Sumber : Hminews.com

Pendidikan Instan

     Kecenderungan serba instan dalam memperoleh ilmu pengetahuan, dari hari ke hari semakin kuat. Dalam memperoleh ilmu pengetahuan, seorang serjana yang sangat cepat memperoleh gelar sarjana S1 atau S2 tanpa melalui proses semester berjalan. Mereka hanya membayar semua ketertinggalan semester lalu didaftarkan masuk menjadi peserta ikut wisuda dan langsung saja mendapatkan ijazah. Pelajar/mahasiswa hari ini ingin ‘sekali seduh langsung jadi’ siap disantap, layaknya makanan instan. Padahal kenyataannya, ilmu pengetahuan tidak seperti makanan instan yang cukup diseduh langsung dinikmati.
Seorang sarjana instan akan memunculkan kecemburuan sosial dan memunculkan ketidakpercayaan terhadap lembaga pendidikan yang mengeluarkan ijazah tersebut. Sarjana yang sudah berproses mati-matian selama pendidikan berlangsung, mengikuti semester berjalan, melaksanakan kewajiban di kampus seperti membayar SPP, mengerjakan tugas-tugas. Sementara ada orang yang tiba-tiba mendapat gelar serjana namun selama pergaulan sosialnya tidak pernah terdengar kabar bahwa dia pernah kuliah. Tentu masyarakat mempertanyakan dari mana gelar itu didapatkan.
Hasil kerja keras akan menghasilkan kepuasan tersendiri. Mengutip dari pernyataan Gus Dur, ”Saya tidak menilai berapa indeks prestasi seorang sarjana yang didapatkan dari kampus tapi saya menilai sebesar apa proses perjuangan dalam memperoleh nilai tersebut.” Selain dari pada itu Mahatma Gandi mengatakan bahwa “kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil , berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki.”
Proses Instan
Terkadang kita hanya menunggu sesuatu yang untuk suatu kejutan yang datang dari langit. Belajar di institusi pendidikan formal itu, sebetulnya merupakan proses untuk mendapatkan pengetahuan, pendewasaan diri, pematangan pribadi, berkomunikasi, berorganisasi, dan membangun relasi dengan sesama, agar menjadi pribadi yang dewasa, berwawasan luas, berjiwa matang, tidak ‘kuper,’ punya prinsip hidup yang kuat, memiliki integritas yang tinggi dan tidak plin-plan. Pada hakikatnya bahwa proses pendidikan mengajarkan diri menjadi seseorang yang rasional, objektif, dan sistematis agar memiliki kerangka pikir yang fundamental dan dapat dijadikan sebagai referensi dalam setiap problematika sosial yang terjadi di sekeliling.
Maka dari itu didalam kampus bukan hanya diajarkan tentang displin ilmu sesuai jurusan masing-masing namun, juga diajarkan dengan moral, etika pergaulan dan nilai-nilai karakter dalam bermasyarakat. Bagaimanapun, pengetahuan yang sempit sama berbahayanya dengan pengetahuan tanpa karakter. Pengetahuan intelektual yang tinggi tanpa diimbangi nilai-nilai karakter diibaratkan seorang pemuda memegang sebilah pedang sementara dalam keadaan mabuk. Maka seorang sarjana yang hanya langsung menerima ijazah tentu akan kewalahan dalam menghadapi tantangan sosial apalagi mempertanggung jawabkan nilai akademiknya. Aktualisasi terhadap nilai-nilai akademik tercermin dari seorang sarjana yang betul-betul melewati sistem pendidikan yang baik, bukan sarjana kampungan, seperti Tarzan masuk kota, tetapi dia dapat menjadi agen of change di tengah arus problematika yang ada.
Maraknya Plagiat
Keengganan untuk melakukan sesuai jalannya sistem akademik, tidak jarang di antara para calon sarjana meng-copi-paste skripsi (plagiat) yang suda jadi, atau bahkan menggunakan biro jasa pembuatan skripsi, atau tesis. Karena bagi mereka yang diutamakan memang bukan pengetahuan melainkan status, ijazah, atau gelar. Agar bisa diakui eksistensinya di masyarakat kalau dia itu punya title akademik.
Menjamurnya institusi yang menawarkan gelar hanya dengan harga Rp 5 sampai 8 juta, ini tidak terlepas dari berfikir instan, padahal yang demikian itu merupakan suatu pelanggaran sistem dan pengkhianatan terhadap prinsip akademik. Membuat tesis sering dipandang calon serjana sebagai suatu yang amat berat, sehingga timbul rasa enggan untuk melaksanakan bahkan memulainya. Maka jalan pintas adalah “plagiat.” Memang, menyusun suatu karangan ilmiyah bukanlah pekerjaan yang mudah. Apa saja yang dikemukakan dalam skripsi, tesis, harus dapat dipertanggugjawabkan berdasarkan data empiris. Namun keharusan itulah yang sangat berharga bagi seorang yang nantinya menyebut dirinya seorang sarjana.
Bagi sarjana harus dapat berpikir ilmiah objektif dan rasional. Ia harus mampu d membiasakan dirinya bersikap ilmiah. Membuat tesis memaksa calon sarjana untuk melakukan penelitian secara ilmiah dan dengan demikian merupakan latihan yang sangat bermanfaat bagi persiapan sebagai seorang ilmuwan. Dan sikap seperti itu telah dipupuk dalam perkuliahan, maka skiripsi, tesis merupakan bukti tentang sikap, cara berfikir dan menghasilkan karya ilmiah.
Sebaliknya cara ‘potong kompas’ atau proses yang serba instan yang diterapkan dalam sebuah institusi sekolah dan perguruan tinggi tidak akan pernah menghasilkan generasi bangsa yang kompeten dan kreatif tetapi hanya akan menghasilkan produk-produk pragmatis.
Berikut ini ada beberapa sistem yang sering diterapkan di kampus-kampus di antaranya:pertama proses pembelajaran dalam semester pendek. Sistem semester pendek itu, pasti tergesa-gesa karena waktu yang singkat harus menghabiskan bahan banyak. Akibatnya dosen pun memberikan secara serampangan sedangkan mahasiswa pun menerimanya juga sepintas lalu tanpa pengendapan.
Kedua Program semester panjang. Karena waktu pertemuannya selalu mengalami jeda, memungkinkan mahasiswa yang rajin untuk membaca ulang memahami materi yang diajarkan mengunyah, merenungkan, dan merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari tetapi dalam semester pendek apa yang diterima mahasiswa dari dosen tidak sempat diserap, dikunyah, direnungkan, apalagi direfleksikan, tetapi langsung ditelan begitu saja ujian. Persis seperti orang menelan obat: agar tidak pahit, obat itu ditelan dengan air minum atau buah-buahan untuk memanipulasi rasa pahitnya.
Menelan itu berbeda dengan mengunyah yang memiliki ritme dan unsur rasa, memerlukan proses kesabaran dan waktu sampai 32 kali (pesan dokter) sedangkan ketika menelan akan terasa nguntal. Sekali barang dilempar ke mulut, langsung ditelan.
Penulis masih teringat waktu kecil dulu saat belajar mengaji, sebelum memulai pelajaran mengaji diharuskan agar setiap santri terlebih dahulu mengangkat air dari sumur ke rumah guru ngaji tersebut, satu orang santri satu jergen berukuran 5 liter air, kalau yang kelas 5-6 SD diharuskan membawa 2 buah jerigen dengan ukuran yang sama diangkat dengan terseok-seok. Jarak dari sumur dengan rumah guru ngaji sekitar 100 M. Setelah semua santri mengangkat air selanjutnya mengambil sapu lidi untuk menyapu, ada yang menyapu di bawah kolong rumah, ada juga yang menyapu lantai atas sampai bersih. Tidak berhenti sampai di situ, selanjutnya kami diarahkan ke dapur untuk mencuci piring. Setelah semuanya beres barulah mulai membuka Al Qur’an untuk dibaca. Dan dibaca berkali-kali sekitar 5-8 kali yang disebut Mandarras (istilah Mandar) barulah datang guru ngaji didepan kita untuk mengajar sambil membawa sebuah rotan kecil yang berukuran panjang kira-kira 60 CM. Satu kali melakukan kesalahan rotan tersebut meluncur kearah bagian paha atau tangan. Begitulah proses panjang terus menerus berjalan sampai masa Khatam bacaan Al-Qur’an
CPNS Berijasah palsu
Maraknya CPNS yang berijazah palsu belakangan ini, marupakan suatu fanomena pendidikan yang memilukan dan memalukan. Kita tidak bisa bayangkan suatu perguruan tinggi ternama di Indonesia Timur bisa-bisanya mengeluarkan ijazah palsu. Seperti yang terjadi pekan lalu UNM berhasil mengidentifikasi setidaknya 11 CPNS yang berijasah palsu. Institusi yang dulunya dikenal sebagai penghasil guru terbaik ini komplain lembaga mereka digunakan sebagai alat untuk mendupliksi ijazah lalu, dimanfaatkan untuk mendaftar CPNS.
Anehnya bahwa yang menggunakan ijazah palsu ini di BKD masing-masing telah dinyatakan lulus. (Fajar 28 Des 2014). Kalau yang orang berijazah palsu menjadi abdi negara dalam suatu instansi, maka dikhawatirkan akan menjadi orang tidak bertanggung jawab dan cenderung korup karena ijazah yang digunakan dalam mendaftar PNS berasal dari proses yang tidak benar. Yakinlah bahwa segala sesuatu yang berasal dari yang tidak benar pasti akan berakhir degan tidak benar pula.

'

Kita berharap pemerintah betul-betul dapat menyeleksi CPNS dengan penuh hati-hati, agar proses ijasah palsu tidak lagi terulang dalam proses penelimaan CNPS berikutnya. Aparat hukum sekiranya dapat menindak tegas sesuai perundang-undangan yang berlaku.   bagi siapa yang kedapatan menggunakan ijasah palsu

Herman Haerudin
Sumber : hminews.com

ASAL MULA APRIL MOP. (MUMPUNG LO PADA MOP-MOP) KE TETANGGA.

   BERTUAHPOS.COM, Setiap tangal 1 April, sebagian orang menyebut hari itu dengan perayaan April Mop. April Mop sendiri adalah suatu hari yang diperbolehkan melakukan kebohongan, kesaksian palsu atau lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. April Mop atau April Fools’ Day ditandai dengan aksi tipu-menipu dan candaan terhadap orang lain dengan tujuan mempermalukan mereka yang mudah ditipu.
Hingga sekarang, sejarah April Mop masih bersifat simpang siur. Artinya, April Mop masih menjadi misteri terkait banyaknya teori di masyarakat. Bahkan, sejumlah negara di dunia punya versi April Mop sendiri-sendiri. Berikut ulasan selengkapnya tentang sejarah April Mop yang dihimpun JadiBerita.
April Mop versi Perancis
Mulai tahun 1582, Perancis sudah memperingati April Mop saat masa pemerintahan Raja Charles IX. Kala itu, Paus Gregory XIII merombak penanggalan kalender yang semula 1 tahun hanya terdiri dari 10 bulan menjadi 12 bulan seperti penanggalan kalender Masehi sekarang. Sehingga, perayaan tahun baru yang semula dirayakan mulai tanggal 25 Maret hingga pada 1 April, dimajukan ke tanggal 1 Januari. Tetapi, rakyat Perancis menentang keputusan Paus. Para warga akhirnya menetapkan perayaan 1 April sebagai Tahun Barunya. Perilaku mereka ini malah ditertawakan oleh sejumlah masyarakat lainnya yang meledek mereka dengan cara memberikan lelucon palsu. Meski diledek, masyarakat Perancis terus bertingkah aneh setiap tanggal 1 April dan menjadikannya sebuah tradisi tahunan. Memasuki tahun 1782, tradisi itu justru ditiru oleh orang Inggris yang selanjutnya mempopulerkannya ke seluruh dunia.
April Mop versi Spanyol
Sejarah April Mop pun datang dari Spanyol. Negara ini merayakan April Mop pada tanggal 28 Desember yang disebut Dia de los Santos Inocentes. Itu berarti sebagai hari anak tak bersalah sampai pemerintahan Spanyol mengeluarkan undang-undang baru agar tanggal 28 desember 1978 diundur sehari supaya tidak dijadikan bahan tertawan publik. Namun, pernyataan berbeda diungkapkan Joseph Boskin, profesor dari Boston University. Boskin mengatakan, ide April Mop digagas oleh para pelawak Kerajaan Romawi pada masa pemerintahan Raja Constantin I di abad ketiga sampai keempat pasca Masehi. Mulanya, para pelawak kerajaan ini mengajukan petisi kepada Raja untuk mengizinkan mereka menjadi raja hanya untuk sehari saja. Tak disangka, sang Raja setuju dengan petisi ini dan mengangkat salah satu pelawaknya yang bernama Jeter untuk menjadi Raja Sehari pada tanggal 1 April. Setelah naik tahta, Raja Jeter pun meresmikan tanggal 1 April sebagai hari kemustahilan.
April Mop versi Perang Salib
Versi ini menjabarkan bahwa perayaan April Mop adalah hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Tak segan-segan, tentara salib merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan meski berniat hanya iseng. Di masa itu, tentara salib menipu umat muslim Spanyol yang kalah perang. Mereka mengatakan bahwa warga Spanyol akan dibebaskan dan dibawa keluar dengan menggunakan kapal. Tetapi itu semua hanyalah bohong belaka. Ini merupakan cara tentara salib untuk menipu masyarakat Spanyol. Kala muslim Spanyol masuk ke dalam kapal, mereka justru dibunuh oleh tentara Salib. Peristiwa keji itu terjadi pada tanggal 1 April.
Sekian uraian mengenai sejarah asal mula April Mop. Pada intinya, April Mop adalah budaya barat yang bersifat jahil dan sangat merugikan orang lain. Jika aden & enon ingin merayakan April Mop, sebaiknya jangan sampai mengerjai teman-temanmu dengan sesuatu yang berlebihan. Karena itu akan bisa membuat orang lain marah 
Sumber : http://bertuahpos.com/berita/asal-mula-perayaan-april-mop.html

Makna Lambang HMI

Merawat Identitas HMI

Pada 5 Februari 2015, genap 68 tahun umur Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menghiasi kancah aktivis di Indonesia. Di usia yang semakin matang, HMI selaku organisasi pergerakan yang bertujuan membina dan mencerahkan mahasiswa Islam terus-menerus memperbaiki berbagai kelemahan guna mewujudkan kader-kader intelektual, beriman nan merdeka.

Selaku organisasi independen yang tak beraifiliasi dengan partai apapun, HMI memang terkesan redup dan lambat dalam merespon isu yang berkembang. Namun percayalah, bahwa hal tersebut dilakukan demi pertimbangan matang dalam menentukan sebuah keputusan. Langkah tersebut juga merupakan wujud kehati-hatian dalam menerapkan prinsip independensi HMI. Inilah salah satu wujud tekad HMI untuk selalu menjadi salah satu bagian garda terdepan dalam menjaga ‘izzul Islam wal muslimin.

Bagi HMI, terlalu mudah untuk melengserkan suatu rezim. Di sinilah identitas HMI, meskipun yang bermain di kancah perpolitikan sebagian adalah senior dan alumni HMI, kader harus dan seharusnya tetap memihak siapa yang benar. Tidak adanya rasa ketergantungan terhadap senior akan selamanya lebih baik untuk menghindari sifat pengecut, rendah diri dan terikat hutang budi.

Adapun kuatnya independensi HMI tak terlepas dari adanya jenjang pengkaderan hingga jalinan komunikasi antar alumni. Bagaimanapun juga, HMI menyadari sepenuhnya bahwa pasti akan ada dampak negatif jika suatu organisasi pergerakan secara eksplisit berada di bawah payung suatu partai. Bukan hanya mencederai hubungan batin antar aktivis, namun lebih mencoreng dan membelokkan sejarah makna aktivis.

Memang tak mudah hidup menjaga identitas independensi dalam berorganisasi. Berbagai hambatan mulai dari segi ekonomi hingga linktak jarang akan ditemui. Tetapi, bukankah iman memang harus diuji di tengah realitas global yang sarat menawarkan kerakusan diri? Perlu ditekankan kembali kepada kader-kader baru bahwa kader berkualitas tak akan terwujud bila yang dirasa dalam berorganisasi hanya manis dan hura-huranya saja.

Meskipun keterbatasan itu terkadang menimbulkan masalah, sering adanya berbagai masalah tersebut kader menjadi terbiasa menghadapi masalah. Kenanglah, bahwa hanya kader yang menguasai masalah-lah yang mampu memecahkan masalah. Daya juang itulah yang perlahan-lahan akan menumbuhkan sifat pengabdian, penghormatan serta pelayanan. Patut disyukuri bahwa keterbatasan itu lambat laun dapat melahirkan kesederhanaan dalam diri kader. Sesungguhnya, kesederhanaan itulah yang mampu membuka awal prinsip independensi. Kesederhanaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pengkaderan HMI selama ini untuk turut serta mengabdi di pentas kancah nasional. Tak berlebihan pula jika “gemblengan” untuk hidup sederhana dalam pengkaderan menjadi penyelamat dan penghebat melalui ibadah dan sunnah-sunnah nabi mulia.

Kader HMI harus sadar bahwa tujuan mencerahkan mahasiswa Islam bukan hanya terhenti pada istilah cerah sebatas tahu. Islam sepatutnnya dijadikan pegangan diri untuk terus berproses memperbaiki diri. Islam adalah agama yang menggerakkan, maka sepatutnyalah kader memiliki sikap tergerak berkarya tiada henti.
Di milad HMI ke- 68 ini, tak ada harapan lain selain merawat dan terus membina kader-kader pemuda HMI yang jiwanya hadir Allah. Positive thinking tahan banting dan pemuda problem solving dalam proses pengkaderan HMI selamanya harus tetap dijunjung.

Yakin Usaha Sampai

Sumber : http://hminews.com/opini/merawat-identitas-hmi/