Rabu, 01 April 2015

George W Bush : " Indonesia adalah Negara Sapi Perah Amerika Serikat "

      Sungguh sangat mengejutkan atas kata-kata yang di ucapkan oleh mantan presiden Amerika Serikat George W Bush dalam pidato kenegaraan tentang Indonesia . Pidato kenegaraan mantan presiden USA kami dapatkan sumbernya kami dapatkan dari media asing yang sangat terkenal beberapa hari yang lalu .
" Kepada yang terhormat Direktur CIA , FBI , Direktur bank dunia , ADB , IMF , CEO , Haliburton , Exxon mobil , Freeport , Bankir-bankir internasional , dan semua pihak yang telah membantu kami membiayai perang Irak , Ahganistan serta menyebarkan imperium global , kami pihak negara Amerika Serikat mengucapkan banyak terima kasih ", ujar mantan presiden USA dalam pidato kenegaraannya . Direktur media dan televisi CNN dan IBC , dan NBC yang telah membantu propaganda pemerintahan Amerika Serikat tidak lupa kami ucapkan terimakasih , lanjut George W Bush .
Dalam keterangan media asing tersebut , pidato mantan presiden George W Bush fokus membicarakan tentang keburukan pemerintahan dan situasi politik negara Indonesia . George W Bush menganggap negara Indonesia ini adalah salah satu negara yang sangat bodoh dan mudah dijadikan sapi perahan negara Amerika Serikat .
Berikut lanjutan penggalan pidato mantan presiden AS George W Bush yang mengatakan bahwa Indonesia adalah sapi perahan negara AS . " Hari ini adalah hari yang sangat penting karena pada hari ini saya mewakili pemerintahan AS akan melaporkan tentang situasi dan keadaan negara Indonesia " ujar George W Bush .
" Negara Indonesia adalah negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam , pada dahulu kala pemerintah AS sangat takut terhadap negara Indonesia namun kini negara Indonesia sama sekali tidak berdaya di hadapan kita , karena menurut laporan intelijen mengatakan bahwa tak ada satupun bahaya potensial yang akan menganggu kepentingan kita di negara Indonesia " pungkas George W Bush dalam pidatonya .

" Begitu pula Angkatan Bersenjata ( ABRI dan Polri ) tidak mempunyai power yang cukup kuat , karena senjata yang digunakan oleh ABRI dan Polri di Indonesia adalah senjata kiriman dari negeri kita ( AS )", lanjut George W Bush . " Coba kita lihat pada saat pemerintah AS melakukan embargo senjata , pihak pertahanan ABRI dan Polri ibarat macan ompong . Dan yang lebih menggelikan , presiden Indonesia pada saat itu menyembah-nyembah dan memelas kepada kita ( AS ) agar menghentikan embargo tersebut ." tegas George W Bush .
Penggalan dari pidato mantan presiden AS ini dapat kita bayangkan alangkah nistanya negara Indonesia di mata pemerintahan AS . Indonesia yang terkenal kaya akan sumber alamnya , bagi Amerika Serikat negara Indonesia merupakan suatu negara boneka jajahan pemerintahan AS secara terselubung , karena Indonesia dinilai sebagai negara tak bertuan . Walaupun Indonesia mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas dan sumber daya alam yang berlimpah , Indonesia tetap menjadi negara termiskin dan terbodoh di mata Amerika Serikat .
" Tak perlu takut denagn generasi muda Indonesia , karena faham materialisme budaya konsumtif , hedonisme , dan individulisme yang kita ajarkan dan propaganda melalui tayangan iklan , film , dan televisi telah berhasil tertanam pada hati dan pikiran sebagian besar rakyat Indonesia ", ujar George W Bush dalam pidatonya .
" Jangankan memikirkan negeri , umat atau agamanya rakyat Indonesia kini hanya memikirkan kesenangan pribadi saja . Bayangkan , Indonesia negara semiskin itu masyarakatnya menduduki peringkat pertama dalam perihal shopping ( belanja ) ke Singapura . Hal ini mengalahkan masyarakat Jepang , Australia dan Cina ," lanjut George W Bush dengan nada tertawa .
Menurut George W Bush dalam pidatonya mengungkapkan bahwa para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang berprestasi telah berhasil di jadikan budak oleh negara AS . Mereka yang berprestasi selalu kita rekrut dan kita kerjakan di perusahaan minyak atau tambang milik AS dengan menyuap gaji yang besarnya sama dengan gaji loper di negeri kita ( AS ) ungkap George W Bush .
Bukan itu saja George W Bush juga menyinggung mengenai pemimpin politik dan petinggi di Indonesia , menurut George W Bush dalam pidatonya mengatakan bahwa para petinggi dan pemimpin politik di Indonesia sungguh mudah untuk di suap perihal uang dan jabatan sehingga mereka bisa kita ( AS ) minta untuk melakukan apa saja sesuai keinginan kita .
Pidato mantan presiden AS ini merupakan suatu tamparan keras bagi pemerintahan Indonesia saat ini yang sedang di sibukkan dengan perebutan kekuasaan di dalam negeri , dengan tanpa menyadari bahwa negeri tercinta kita ini ternyata di nilai sangat rendah oleh negara luar . Kita sebagai bagian dari negara Indonesia merasa sedih dan terpukul atas penghinaan secara blak-blakan mantan presiden George W Bush dalam pidato kenegaraan .

Sumber : http://m.kompasiana.com/post/read/709491/3/george-w-bush-indonesia-adalah-negara-sapi-perah-amerika-serikat-.html

"Tragedi Mei 1998 Bisa Terulang pada Jokowi"

  

   Presiden Joko Widodo sedang menggali kuburnya sendiri dengan berbagai kebijakan yang menyengsarakan rakyat seperti menaikkan harga BBM. Hal itu dikatakan pengamat politik Muslim Arbi kepada intelijen (31/03).
Menurut Muslim, Jokowi masih menganggap dirinya tidak bisa dilengserkan melalui gerakan mahasiswa dan rakyat karena masih populer. “Terlihat sekali, Jokowi masih menganggap dirinya populer, padahal beberapa relawan dan pendukungnya sudah mulai meninggalkan Jokowi,” papar Muslim.
Akktivis ITB era 80-an ini mengungkapkan, kalangan ‘kelas menengah’ sudah menyatakan protes kepada Presiden Jokowi. “Di beberapa daerah, para dokter, perawat demo terhadap kebijakan Jokowi. Kalau kalangan menengah sudah protes menandakan, kondisi negara dalam keadaan kritis,” papar Muslim.
Muslim menegaskan, peristiwa 1998 bisa terulang terhadap Jokowi di mana indikasi sudah terlihat. “Sebelum Soeharto lengser ada peristiwa 27 Juli yang dipecah PDI, sekarang ada Golkar dan PPP yang dipecah, kondisi ekonomi pun mulai tidak stabil. Ini yang bisa menjadi pemicu terjadinya perubahan politik di Indonesia,” pungkas Muslim.

Sumber :inteligen.co.id

APA ITU CINTA .???

Cinta dalam Pengertian Orang Berorganisasi.. Adalah..(?)
(Kosong)

"Donya Mandum Nyan ".!

Miskin yang Sabar atau Kaya yang Bersyukur?

    Manakah yang lebih mulia antara orang miskin yang bersabar atau orang kaya yang bersyukur? Orang miskin yang beriman dapat masuk surga sekian ratus tahun lebih cepat daripada orang kaya. Tapi itu jika mengabaikan faktor lain seperti apakah orang miskin sudah pasti tidak punya dosa? Belum lagi, orang miskin juga belum tentu bebas dari berbagai sifat hasad (iri dan dengki) misalnya, sombong, dan berbagai sifat ‘manusiawi’ lainnya.

Selain itu, ketidak-ikhlasan dan riya terhadap orang lain bisa saja dimiliki oleh orang yang tidak beramal. Artinya, sangat sering orang miskin dipenuhi kecurigaan dalam melihat amal orang kaya. Bahkan dalam diri orang miskin pun bisa bercokol kesombongan, dan itulah kesombongan yang paling dibenci Allah.

Tidak sedikit pula manusia yang jebol pertahanannya karena kemiskinan, mengambil milik orang lain, mencuri, terjerumus pada dunia hitam, menjual diri (melacur), maupun kehinaan lainnya, sebagaimana sajak WS Rendra:

Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan


Meski begitu, pintu-pintu kebaikan tidak tertutup sama sekali bagi orang-orang miskin. Karena dzikir, tasbih, tahmid, takbir dan dzikir lainnya dapat menjadi sedekah bagi orang-orang yang tidak mampu bersedekah dengan harta. Kesabaran menjalani hidup dalam kekurangan juga merupakan keutamaan. Dikisahkan, segolongan sahabat yang miskin datang kepada Rasulullah. Mereka mengeluh karena keadaan yang membelit tidak memungkinkan mereka untuk beramal sebagaimana orang-orang kaya beramal dengan harta mereka.

Oleh Rasulullah, kepada golongan papa tersebut diajarkan agar setiap selesai shalat membaca tasbih, tahmid dan takbir 100 kali, yang keutamaannya menyamai infaq dan shadaqah yang dikeluarkan orang-orang kaya. Pulanglah para fuqara tersebut dan mengamalkan dzikir itu setiap selesai shalat mereka.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang kaya dari para sahabat pun mengetahui keutamaan dzikir atau wirid yang Rasulullah ajarkan untuk diamalkan selesai shalat. Mereka pun berdzikir sama seperti dzikir orang-orang miskin tersebut. Kembalilah para fuqara kepada Rasulullah dan mengadu, bahwa orang-orang kaya telah berdzikir dengan wirid yang sama. Dengan demikian artinya lagi-lagi golongan miskin kalah daripada golongan kaya dalam hal amal kebaikan.

Sabda Rasulullah mengenai hal tersebut: “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Hadits Muttafaqun ‘Alaih).

Mengapa Kita Harus Kaya?

Banyak sekali jawaban untuk satu pertanyaan tersebut. Dengan uang, banyak hal menjadi mudah. Dengan uang, ibadah-ibadah seperti haji, umrah, qurban, aqiqah dan sebagainya kita tunaikan. Demikian juga halnya dengan pembayaran zakat, fidyah, kafarah, membebaskan budak, menyantuni faqir miskin dan menafkahi anak yatim.

Hingga zaman ini masih banyak masyarakat yang terjerat hutang pada lintah darat (rentenir). Hal itu terpaksa mereka tempuh karena melihat bahwa itu adalah satu-satunya solusi –karena ketidaktahuan atau karena terlanjur terjebak. Alangkah baiknya jika kita mampu memberi solusi untuk mereka melepaskan diri dari jeratan hutang bunga berbunga tersebut. Tentunya untuk itu diperlukan modal yang cukup. Artinya, lagi-lagi itu adalah masalah uang.

Tidak sedikit di antara kita yang suatu kali dimintai tolong oleh teman; pinjam uang. Bagaimana perasaan kita ketika pada waktu kawan dekat, tetangga atau saudara kita itu begitu butuh bantuan, tetapi pada saat yang sama kita tidak bisa membantu? Misalnya ketika tetangga atau teman dekat terkena musibah, persiapan nikah, persalinan di rumah sakit, membayar hutang yang jatuh tempo dan sebagainya. Kita pasti merasa trenyuh, malu dan sekaligus merasa bersalah jika tidak bisa membantu mereka. Lain halnya jika kita ada uang untuk membantu mereka, sebagai manusia normal pastilah batin kita merasa senang bisa membantu teman, membantu meringankan beban mereka meski sedikit.

Harus kita akui bahwa begitu banyak persoalan yang berpangkal pada kemiskinan. Di antaranya kebodohan, tindak kriminal, pelacuran dan sebagainya. Karena orangtua miskin, anak-anak tidak bisa bersekolah, dan karenanya mereka tetap dalam keadaan bodoh, karena kebodohan itu maka mereka tidak dapat meraih pekerjaan yang baik, akhirnya mereka terus-menerus berkubang dalam kemiskinan. Itulah lingkaran setan antara kemiskinan dan kebodohan. Begitu juga dengan besarnya angka kriminalitas karena faktor ekonomi, seperti pencurian, penodongan, perampokan dan sebagainya. Bahkan karena alasan miskin, tidak sedikit yang terjerumus ke dalam pelacuran.Na’udzubillah. Hal itu sepertinya sudah menjadi kesimpulan umum mengenai dampak negatif akibat kemiskinan.

Keutamaan Muslim Kaya

Dalam hadits yang agak panjang di atas telah jelas kiranya keutamaan orang-orang mukmin yang kaya, yang dengan hartanya tersebut dapat mengerjakan amal ibadah yang lebih dibanding dari orang-orang mukmin dari golongan miskin.

Itulah kekayaan yang mendatangkan kebaikan. Kekayaan yang tidak ditahan-tahan dengan kepelitan, takut miskin atau kekufuran terhadap Allah Sang Maha Pemberi. Orang-orang seperti itulah yang harus membuat orang-orang miskin terpacu. Bahkan ‘iri’ dalam konteks yang demikian diperbolehkan. Tidak boleh ada rasa iri kecuali dalam dua hal, yaitu:

Seseorang yang Allah karuniai kekayaan kemudian dibelanjakan pada jalan yang haqSeseorang yang Allah karuniai hikmah (ilmu), dia amalkan dan mengajarkannya. (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Dalam koridor itulah kekayaan menjadi keutamaan dan menambah kedekatan di sisi Allah. Kekayaan yang mampu menyelamatkan manusia dari api neraka. Kekayaan yang bermanfaat bagi kehidupan dan sesama, menyelamatkan orang-orang miskin dari jurang kehinaan dan lembah hitam. Mencegah mereka yang karena amat miskinnya sehingga terpaksa atau tergoda untuk menjual kehormatan, menempuh jalan yang haram, menyakiti sesama, mengambil hak milik orang lain dan berbagai pelanggaran lain.

Jika orang-orang kaya bersikap sebagaimana seharusnya, mendatangkan banyak kemaslahatan dan meminimalkan atau menetralisir berbagai potensi kejahatan, maka mereka insya Allah menjadi golongan yang lebih dicintai Allah.

Sumber : hminews.com

Mengurangi Dominasi Politik Aktivis dengan "Bisnis"

    ‘Perselingkuhan’ antara politik dengan bisnis kerap terjadi di Indonesia dan hal itu merusak tatanan. Penyebabnya adalah tidak-mandirinya secara ekonomi orang-orang yang terjun di dunia politik yang tergiur dan menggadaikan idealisme. Hal itu juga tak luput menimpa para politisi yang berlatar belakang aktivis.

Menurut Ketua Departemen Bisnis Majelis Nasional KAHMI, Ismed Hasan Putro, Business Award digagas sebagai salahsatu usaha untuk mengurai karut-marut tersebut, selain tentu saja, untuk menyeimbangkan iklim dalam HMI yang cenderung didominasi orang-orang politik. Padahal, lanjutnya, ekonomi tidak kalah pengaruhnya terhadap politik, bahkan lebih besar.

Ia mencontohkan dengan yang terjadi di Amerika Serikat. “Yang berkuasa di Amerika bukan para politisi, bukan Presiden Obama (sekarang), tetapi dua ‘General’. Yaitu General Motor dan General Electric,” ujar Ismed.

Meski terlambat, ia mengakui, tetapi KAHMI Business Award akan menjadi langkah awal untuk mengembangkan kewirausahaan di kalangan alumni HMI. Koordinator Presidium Nasional KAHMI, Mahfud MD, setuju dengan ide KAHMI Business Award. Meski ‘menyimpang dari arus utama’ dalam HMI, tetapi bisnis perlu dikembangkan. Ia berharap dengan adanya gerakan yang dimotori KAHMI tersebut akan memperbaiki keadaan, bisnis tidak mengotori politik, politik tidak memperalat bisnis.

Mahfud MD juga menjelaskan ayat mengenai bisnis yang baik akan menyelamatkan manusia dari neraka. Yaitu bisnis yang dilandasi iman, yang dengan demikian sudah pasti pelakunya tidak akan berbuat curang. Kemudian juga dengan harta yang diperoleh dari bisnis tersebut digunakan untuk berjihad di jalan Allah.

Salahsatu penerima penghargaan, Fajar Zulkarnaen, mengaku lebih senang berbisnis daripada terjun ke politik karena alasan idealisme, dan bahwa perpolitikan Indonesia kini yang terlalu ‘kotor.’  Namun, ia menegaskan bukan berarti politik tidak baik, tetapi ada saatnya terjun ke politik jika telah siap segala-galanya.

Sumber : hminews.com

Loyalitas, Solidaritas dan Soliditas

     Ada sejumlah faktor yang membuat orang loyal terhadap kesatuan, kelompok, organisasi atau perusahaannya. Faktornya tidak hanya nilai materi, terbukti banyak orang yang bertahan meski ditawari gaji yang lebih tinggi di tempat lain, jika dalam kelompoknya itu merasa dapat lebih memperjuangkan tujuan-tujuan yang lebih besar, tanpa harus mengubur impian pribadi.
Sebaliknya, jika organisasi atau perusahaan sudah dianggap tidak lagi akomodatif terhadap tujuan tersebut, maka kemungkinan untuk bertahan amat kecil dan hengkangnya orang-orang yang kecewa tersebut tinggal menunggu waktu saja.
Solidaritas tumbuh dari kebersamaan. Kebersamaan dijalin tidak hanya saat berada dalam lingkungan pekerjaan atau organisasi, tetapi banyak hal dan kesempatan lain yang dapat memperkuat solidaritas. Mulai dari yang paling sederhana dan  tidak mesti yang berkaitan dengan pekerjaan, namun bisa dari hal-hal pribadi dan keluarga. Yaitu dengan memahami persoalan apa saja yang dihadapi orang lain dan kemudian menawarkan bantuan, langsung membantu atau mencarikan solusi tanpa harus diminta.
Urusan pribadi misalnya rekan kita si “A” sedang mempersiapkan pernikahan. Dari satu hal ini saja terbuka kesempatan lebar untuk membantunya mulai dari mengurus undangan, tempat resepsi, baju pengantin, hingga persoalan mahar. Proses menjelang pernikahan biasanya amat menguras energi dan pikiran, apalagi waktunya yang semakin dekat, sedangkan persiapan belum sempurna. Bisa jadi karena biaya yang masih kurang, konflik keluarga atau entah apa lagi. Dari kejadian yang sudah-sudah, ada saja sahabat dekat yang terlewatkan dan tidak diundang. Bukan kesengajaan, tapi karena berbagai persoalan yang karenanya harus dibantu oleh sahabat-sahabat lain untuk mengurusnya.
Selain itu, jangan sepelekan pemberian penghargaan meskipun terkesan remeh dan jangan sungkan-sungkan berterimakasih kepada sesama anggota, bawahan serta semua yang terlibat. Jangan pelit pujian. Perlakuan yang ‘meng-orang-kan’ tersebutlah yang kerap dapat membuat musuh berbalik menjadi kawan, kompetitor berubah jadi mitra, serta mengubah kesinisan orang menjadi simpati. Apalagi orang-orang yang telah menjadi bagian dari tim dan kesatuan.
Mempelajari Hal-hal Baru
Manusia secara umum adalah makhluk yang terus-menerus belajar. Setua apa pun pasti tertarik pada hal-hal baru, ingin mencoba berbagai hal yang tidak biasa, tergoda menguasai berbagai kemampuan baru. Selain bermanfaat bagi organisasi atau perusahaan, pola semacam itu pun menguntungkan karyawan atau anggota organisasi secara pribadi, sebab kapasitas diri mereka bertambah. Kemampuan mereka pun tidak itu-itu saja, tapi terus berkembang. Dengan dasar yang demikian itulah setiap pemimpin perlu memberi tugas atau pekerjaan yang menantang bagi karyawan, bawahan atau anggota organisasi – perusahaan yang dipimpinnya. Pekerjaan yang menantang tersebut sekaligus menjadi ajang pembelajaran hal-hal baru agar iklim kerja lebih bergairah dan tidak monoton.
Kegairahan semacam itu perlu dijaga dan terus ditumbuhkan agar produktivitas tidak merosot. Karena kehilangan kegairahan bisa berarti pula sebagai kehilangan orientasi. Meski tujuan yang dirumuskan sejak semula untuk dicapai begitu muluk, tapi jika kegairahan bekerja telah hilang, mustahil semua dapat tercapai. Semua aktivitas bisa tanpa makna dan tidak berarti apa-apa, tidak berdampak pada kemajuan, tidak menambah keuntungan, tidak menghasilkan karya dan prestasi. Itu artinya sia-sia sajalah waktu yang telah dilewatkan, padahal waktu amat berharganya. Demikian juga dengan cost atau biaya atas semua yang dikeluarkan seperti biaya perjalanan, listrik, sewa rumah, makan-minum, serta biaya-biaya lain yang semestinya tidak hilang begitu saja, tetapi harus mendatangkan hasil.
Tetapi dalam mempelajari dan beradaptasi dengan hal baru itu sangat mungkin terjadi kesalahan, entah kecil atau besar. Pemimpin harus memaklumi dan memaafkan kekeliruan itu dan menumbuhkan sikap percaya diri bawahannya, memastikan tidak terjadi apa-apa, mereka tidak akan dihukum kecuali karena kesalahan yang disengaja. Kesalahan-kesalahan itu akan menjadai guru yang mengajarkan bagaimana semestinya, bagaimana benarnya dan apa saja yang tidak benar dan tidak perlu diulang.
Pelibatan Termasuk dalam Pengambilan Keputusan
Sebagaimana umum pahami, pengambilan keputusan merupakan tugas pimpinan. Sedangkan anggota yang lain atau bawahan menjalankan keputusan yang telah dibuat itu. Akan tetapi secara psikologis perlu diingat kembali bahwa ‘mengambil hati’ orang meskipun bawahan tidaklah mudah. Pemimpin yang tidak berhasil mengambil hati orang yang dipimpinnya bisa saja dipatuhi atau ditakuti, tetapi tidak mempunyai wibawa. Ketakutan bawahan hanya bersifat karena pimpinan itu bisa memutuskan perkara yang menyangkut ‘nasib’ atau posisi dan jabatannya dalam suatu lingkaran pekerjaan organisasi-perusahaan.
Meski pengambilan keputusan adalah kewenangan pimpinan, ‘nasib’ suatu keputusan tersebut apakah dapat dijalankan dengan baik atau tidak, bisa mencapai tujuan ataukah gagal, bergantung dari orang-orang yang akan terlibat langsung dalam usaha itu, yaitu seluruh anggota, karyawan atau pekerja. Bisa saja keputusan-keputusan itu bersesuaian atau tidak sesuai dengan keinginan banyak orang. Jika demikian halnya, hampir bisa dipastikan maka mereka akan setengah hati menjalankannya, sehingga hasilnya pun tidak akan maksimal.
Meski pengambilan keputusan adalah kewenangan pimpinan, ‘nasib’ suatu keputusan tersebut apakah dapat dijalankan dengan baik atau tidak, bisa mencapai tujuan ataukah gagal, bergantung dari orang-orang yang akan terlibat langsung dalam usaha itu, yaitu seluruh anggota, karyawan atau pekerja

Seperti ketika Walikota Solo -Jokowi- yang terlebih dahulu berdialog dengan pedagang-pedagang pasar sebelum mereka dipindahkan (direlokasi) ke tempat lain. Sebelum mengatakan bahwa mereka harus pindah, Jokowi telah berdialog dengan mereka sebanyak 53 kali. Dalam dialog tersebut sambil mempererat silaturahmi, ia memahamkan dan meyakinkan para pedagang. Kemudian pada pertemuan ke 54 barulah dinyatakan keinginannya, tepatnya tawaran kepada para pedagang kakilima tersebut untuk pindah ke lokasi baru.

Belajar dari Peristiwa Pemindahan Hajar Aswad
Pemindahan Hajar Aswad (batu hitam) yang merupakan bagian dari bangunan Ka’bah atau Baitullah nyaris memicu perpecahan Kaum Quraisy di zaman jahiliyah. Sebagai bagian penting dan simbol utama bangunan utama tersebut, semua golongan merasa paling berhak atasnya, tidak rela jika kelompok lain yang mendapat kehormatan mengangkat dan menempatkannya pada posisi semula seusai pemugaran Ka’bah.
Ketegangan makin memuncak sebab tidak ada yang mau mengalah. Bahkan untuk mempertahankan kehormatan kelompok masing-masing, jalan kekerasan pun bisa ditempuh untuk itu. Karena tidak kunjung didapatkan jalan keluar, akhirnya semua sepakat untuk mengangkat penengah dari orang yang pertama kali datang ke Baitullah, dan ternyata Muhammad adalah orangnya.
Muhammad mengemukakan usul agar dibentangkan kain dan para pemimpin kabilah memegang tiap tepinya, kemudian Muhammad yang mengangkat Hajar Aswad ke atas sorban panjang, dan mereka menggotongnya. Pelibatan itu tidak hanya menenteramkan, tapi juga mengangkat harga diri semua kelompok. Dan Muhammad pun makin dipercaya dalam menyelesaikan berbagai persoalan maupun mengemban amanah kemasyarakatan.
Satu contoh ini menunjukkan bahwa penting meletakkan dasar kesatuan kelompok dengan mengangkat harga diri dan membuat masing-masing kelompok tersebut berperan dalam mewujudkan cita-cita bersama. Tidak ada yang merasa dikorbankan sebagai objek pelengkap bagi kelompok lain dalam satu kesatuan masyarakat.
Ya Allah himpunkanlah hati kami dan perbaikilah keadaan kami, berilah kami petunjuk jalan keselamatan dan selamatkanlah kami dari kegelapan kepada cahaya. Jauhkanlah kami dari segala keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi. Berkahilah kami dalam pendengaran kami, penghilatan kami, hati kami dan pasanga-pasangan kami serta keturunan kami. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat Maha Penyayang. 
Sumber : hminews.com

Dari Islam untuk Kemaslahatan Semua

     Ada dua pengertian khalifah menurut Al Qur’an. Konsep pertama khalifah universal, yaitu bahwa semua manusia adalah khalifah Allah di muka bumi, sebagaiman tujuan penciptaan Adam dan keturunannya (QS Albaqarah 30). Kedua adalah khalifah dalam pengertian spesifik, yaitu sebagai penguasa, sebagaimana ayat yang menceritakan kisah Dawud. “Wahai Dawud, sesungguhnya Kami telah menjadikanmu khalifah di bumi, maka putuskanlah hukum di antara manusia dengan adil dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah (Shad: 36).”
Term khalifah yang dikenakan pada Adam adalah universal yang melekat pada setiap individu, setiap insan itu adalah khalifah Allah. Jadi semua kita, apapun agamanya maupun kelaminnya, adalah khalifah Allah. Sebagai khalifah Allah kita diberi kemampuan untuk menguasai alam ini, maka di dalam Al Qur’an disebut “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya…”
Untuk membuktikan dan memampukan manusia sebagai khalifah Allah, Allah mengajarkan asma’. Apa asma’ itu adalah konsep-konsep, seluruh konsep makhluk yang ada di bumi. Karena secara universal tugas manusia adalah untuk memakmurkan bumi. Ini mengena pada seluruh umat manusia tanpa membedakan agama, seluruh umat manusia adalah khalifah Allah, apapun agamanya, apapun keyakinannya, bahkan yang tidak beragama pun khalifah Allah di muka bumi.
Yang kedua, khalifah dalam konsep kehidupan bermasyarakat, khalifah dalam pengertian kekuasaan politik, inilah yang pertama ditegaskan kepada Nabi Dawud dalam ayat di atas. Khalifah dalam pengertian yang kedua inilah rupanya yang diperebutkan, termasuk oleh ISIS sekarang ini.
Khalifah universal, personal, kita semua adalah khalifah Allah apapun agamanya, apapun suku bangsanya, apapun keyakinannya.
Mulai dari yang tertinggi sebagai presiden, gubernur, sampai lurah, itu adalah khalifah Allah. Dan alhamdulillah kita sudah melihat bukti, bahwa banyak presiden, penguasa, disumpah dengan menyebut nama Allah. Jadi itu juga mengingatkan ‘Anda ini sesungguhnya khalifah Allah.’ Presiden Amerika itu tidak menyebut nama Allah tetapi paling tidak ada kata ‘God’ yang berarti Tuhan, yang juga diucapkan dalam sumpah jabatannya.
Jadi konsep khilafah yang diusung oleh Hizbut Tahrir, ISIS dan sebagainya, itu bertentangan dengan kodrat manusia yang telah diciptakan oleh Allah berbangsa-bangsa, bersuku-suku, untuk saling mengenal. Jadi kalau kita mendirikan khilafah untuk konteks Indonesia, itu sah. Jadi tidak harus khilafah itu universal, itu pengingkaran terhadap penciptaan yang Allah sendiri mengakui faktor kesukuan, bangsa dan sebagainya.
Yang paling fatal adalah konsep khilafah yang sekarang sedang diusung untuk agama tertentu itupun yang mempunyai paham tertentu saja. Buktinya yang terjadi sesama Islam saling serang, bukan saling melindungi.
Khalifah Allah dalam kehidupan dunia merujuk kepada sifat Allah: Ar Rahman, merahmati seluruh makhluk-NYA. Bumi Allah ini tidak pernah menolak orang dengan agama apa pun, air-Nya juga tidak pernah menolak diteguk oleh orang yang tidak beragama Islam, demikian juga dengan udara-Nya yang tidak pernah menolak dihirup oleh siapa saja.
Maka semua khalifah Allah adalah penguasa dengan sifat Rahman. Beda dengan sifatRahim, yang menghakimi iman, yang hanya terjadi nanti di hari akhir. Maka manusia di dunia ini tidak bisa menghakimi keyakinan.
Menerapkan sifat yang Rahmaani, bukanRahiimi. Negeri ini untuk semua warga bangsa, siapapun mereka, apapun agamanya, dan penguasa di negeri ini disumpah atas nama Allah tetapi bertindak untuk kemaslahatan seluruh warga, apapun agama dan keyakinan yang dianut. Itulah hamba Allah dengan sifat Ar Rahman
Sudah saatnya kedepan Indonesia harus menjadi pemimpin dalam wacana menyambung hubungan Islam dan negara. Islam di Timur Tengah sana memerlukan sekali uluran tangan dari kita tentang bagaimana merumuskan hubungan agama dan negara. Memang Pancasila sebagai landasan negara bukan bahasa Arab, tetapi dalam bahasa lokal kita, tapi makna dan substansinya sangat-sangat islami. Ketuhanan yang Maha Esa tidak bisa diartikan lain kecuali sebagai tauhid. Kemanusiaan yang adil dan beradab tidak lain adalah pemuliaan terhadap manusia, “Sesungguhnya telah Kami muliakan bani Adam..” Persatuan Indonesia tidak bisa dimaknai kecuali persatuan, persaudaraan antara warga bangsa. Permusyawaratan tidak lain adalah ‘syura bainahum.’ Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, al ‘adalah (keadilan). Sekiranya dalam negara Islam, satu saja, keadilan, sebagai landasannya, sudah cukup.
Akhirnya kita harus pede menawarkan konsep hubungan agama dan negara seperti terjadi dengan kita.
Dari ceramah Masdar F Mas’udi, yang disampaikan pada 21 Agustus 2014 di Gedung Nusantara V, Senayan, dalam Silaturahmi Idul Fitri 1435 H Majlis Nasional KAHMI bertema ‘Merajut Ukhuwah Membangun Bangsa’
Sumber : Hminews.com